CURAHANKU PADA ALLAH

Allah, apa yang ingin engkau perlihatkan, saat rasa itu mulai datang kunikmati setiap waktu dengannya,ada nyaman yang jarang kutemukan dengan yang lain, merenda mimpi yang terasa indah, melambungkan sejuta harap dan asa yang mungkin terlalu tinggi.. salahkah itu?

Allah, tahukah bahwa aku berharap dapat bersamanya, kemudian kurangkai mimpi yang terucap dalam setiap obrolan kita, namun ada yang lain harus kulakukan, tatkala harus memilih kukorbankan rasa ini, aku merasa tak pantas buat dirinya menurutku yang terlalu sempurna.

Allah, mengapa engkau perlihatkan jalan yang lain, aku memilih menghapus mimpiku dan melepasnya, naum mengapa kau beri aku cobaan yang bertubi-tubi ini? Hati ini mulai sakit dan tangisku mulai pecah di malam-Mu, disetiap sujud-Mu. Namun entah mengapa ketenangan itu belum kudapat.

Allah, Engkau maha tahu bagaimana rasa ini untuknya, berikanlah ia kebahagiaan selalu. Jika denganku kebahagiaannya terkekang, maka lepaskan aku darinya. Jika aku masih diberi kesempatan, lihatlah aku dari tempatmu yang tenang, tuntun aku ke jalan yang benar agar aku dapat membahagiakannya.

seberapa lama aku sanggup bertahan

Hey, kau yang disana!
Apakah kau mendengar suaraku yang parau?
Apakah kau melihat diriku yang lemah?

Hey, kau yang disana!
Apakah kau mampu menemukan sinar mataku lagi?
Apakah kau mampukah mengembalikan senyumku?

diam?
mengapa kau diam?
mengapa tidak menghampiriku?
tidak pula kau menatapku.

perlukah aku berteriak lebih keras lagi?
perlukah aku yang menghampirimu?

mengapa kau harus diam?
Apakah kau tidak mengasihaniku yang mengemis meminta belas kasihmu?
Ataukah kau mencoba berpaling dariku?

diam?
kau masih saja diam?
haruskah aku memberimu waktu untuk bicara sedangkan telah sekian lama aku yang diam.

hey.......!

bolehkah aku mencuri hatimu?
bolehkah aku membelah hatimu?
agar aku bisa mengetahui siapa saja yang ada dihatimu .
agar aku bisa mengetahui seberapa besar kau membenciku .

Kucoba menjauh darimu.
Sebuah jarak antara barat dan timur.
Mungkin jarak itu cukup untuk kau rasakan rindu yang kurasa.
Dan selama itu akan kutunggu kamu menghampiriku.

Kau masih berdiri disana?
Perlukah aku berteriak pada telingamu.
Akan kusampaikan segala emosi yang bergejolak.

Akan kusampaikan, bahwa aku mencintaimu.
bahwa aku merindukanmu.
bahwa aku membutuhkanmu.

bila kau bertanya mengapa.
aku akan menjawab, karna kamu segalanya bagiku.
Meskipun kutahu, hanya diriku yang menganggapmu begitu.

kucoba untuk bersabar.
kucoba untuk menunggu.
kucoba untuk menanti.
kucoba untuk tegar.
dan kucoba untuk percaya bahwa kau kembali.

namun salahkah aku bila aku semu dengan semua yang mulai membunuhku?

kau mengulur waktu yang kuberikan.
kau menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
kau biarkan aku menjauh bahkan lebih jauh.

tapi salahkah aku masih menunggumu? hanya satu jawabannya, tentu tidak.

mungkin aku yang salah telah mengkhianatimu.
mungkin aku yang salah telah mendustaimu.
mungkin aku yang salah telah meninggalkanmu.

tapi apakah aku juga yang salah karena penyesalanku datang terlambat?

Aku tak tahan !
Aku tak tahan !
Aku tak tahan !
Aku tak tahan !

Kumohon, datanglah padaku !
tampar wajahku !
Tusuk jantungku !
Dan carilah hatiku bahwa disana masih terukir namamu...

drama satu babak dalam hujan

Cuma sepenggal kata itu yang meluncur dari gadis yang sedari tadi menunduk di hadapan kekasihnya itu. Lalu mereka terbanting dalam sunyi yang mencekam. Berkali-kali kekasihnya melontarkan tanya tapi berkali-kali pula dia menyodorkan diam.

Gadis itu masih menunduk. Menggigit bibirnya dan tak berani mengangkat wajah apalagi memandang manik mata cowok yang telah mendampinginya menyambut rinai selama hampir dua tahun.

Tak ada jawaban.

Tak ada air mata.

Cuma gemericik air hujan dan lagi-lagi hempasan angin.

Lalu perlahan gadis itu berbalik dan pergi. Meninggalkan kekasihnya yang masih tergugu dalam diam. Pria itu tak bisa apa-apa karena dia tahu pasti sia-sia belaka mengejar gadis itu dan meminta penjelasan untuk ketidakmengertiannya. Dia pasti akan menuai diam kembali. Seperti tadi.

Dia cuma menatap punggung itu sembari berharap gadis itu akan berbalik dan menyapanya dengan selarik tawa renyah.

Aku cuma bercanda, katanya. Lalu mereka kembali bercengkerama dan saling memercikkan air hujan. Seperti biasanya. Sebentuk senyum pun membias di hati.

Tapi punggung itu terus saja menjauh. Melangkah tanpa menoleh sedikitpun. Mulai mengabur di balik tirai hujan. Lalu menghilang di kegelapan. Sementara pekat enggan memantulkan sosok gadis itu dalam matanya.

Dia pun menggigil.

***

Malam kian larut. Bias kelam semakin pekat. Senyap. Cuma ada suara nyaring jangkrik dan desik air dari pepohonan. Ada juga beberapa lagu riang para kodok yang menimpali suara si jangkrik. Seperti orkestra malam. Pertanda bahwa hujan telah usai.

Aku melangkah menuju teras. Pelan. Sedikit bersijingkat malah karena aku tak ingin mengusik siapapun. Sisa-sisa rinai yang masih melekat di tubuhku menetes dan jatuh ke lantai. Menciptakan genangan kecil.
Sementara itu desah angin malam menyusupkan gigil dan membuat seluruh indera perasaku serasa melumpuh. Beku.

Aku mendorong daun pintu. Perlahan. Aku tak ingin menimbulkan bunyi-bunyian yang akan membangunkan seluruh penghuni rumah ini. Aku bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebuah drama memilukan dan mereka akan memerankan tokoh-tokoh dengan mimik iba bercampur kuatir membias di wajah masing-masing. Tentu saja peran itu tidak berlaku untukku. Aku cuma menjadi objek dari tatapan-tatapan iba itu. Sungguh drama yang membosankan.

“Dinda”

Langkahku terhenti.

Aku menoleh ke arah sumber suara. Mataku terbentur pada sosok mama yang masih terjaga di pojok ruang tamu. Ada kantuk menggantung di matanya. Tampaknya beliau sangat kelelahan karena selalu mengurusi segala kebutuhanku bahkan hal-hal yang paling kecil sekalipun.
Terkadang mama menyempatkan diri untuk menyuapkan satu atau dua sendok makanan kala pisau mengiris-iris lambungku atau saat nyeri menghujam kepalaku. Bahkan beliau masih terjaga selarut ini hanya untuk menungguku.

“Kamu dari mana saja, sayang?” tanya mama dengan lembut. Aku menemukan raut cemas juga guratan-guratan lelah disekitar matanya. Beliau menghampiriku.

“Badanmu dingin sekali. Kamu basah kuyup” ujar mama. Panik.
Aku tersenyum sebagai isyarat pada mama untuk tidak kuatir. Tapi tampaknya usahaku itu tidak berhasil.

Dengan tergopoh-gopoh mama mengambil sehelai handuk. Lalu berusaha mengibaskan sisa-sisa hujan di rambutku dan melingkarkan handuk tersebut di sekujur tubuhku.

“Mengapa tak menunggu hingga hujan reda? Seharusnya kamu menelepon agar papa bisa menjemputmu.” Suara mama terdengar jengkel karena aku sama sekali tak peduli apalagi mencemaskan diriku. Seperti dirinya.
Ah, selalu saja begitu.

Jujur, aku letih menjadi pusat perhatian baik dari Mama, papa atau Mbak Ina. Seolah-olah mereka tak percaya aku bisa bertanggung jawab terhadap diriku sendiri. Dan selalu saja mempermasalahkan hal-hal kecil yang katanya bisa mengusik kenyamananku padahal aku sendiri tidak pernah merasa tidak nyaman. Justru aku gerah dengan semua perhatian mereka.

“Aku tidak apa-apa kok, ma”

Aku mencoba menenangkan mama. Lalu menyematkan binar di wajahku untuk lebih meyakinkan mama. Aku mengambil alih pekerjaan mama dan mulai mengeringkan tubuhku, mengusap pipiku kemudian melilitkan handuk itu di kepalaku.

“Seharusnya kamu menelepon dulu agar mama dan papa tidak kuatir. Kamu ingat khan pesan dokter?”

Ah, yah… pesan dokter. Aku mendesah. Melempar pandang ke petak-petak ubin yang terasa dingin di telapak kakiku. Nanar.

Semenjak penyakit sialan ini bersarang di kepalaku. Sejak itu pula aku tak berhak atas hidupku. Dan vonis dokter adalah klimaks dari belenggu ini Segala hal harus teratur termasuk menenggak berpuluh-puluh pil pahit dan membiarkannya meluncur di tenggorokanku. Katanya untuk mengurangi rasa sakit yang memang selalu menyergap kepalaku tiba-tiba. Aku benar-benar bosan dengan semua itu.

“Kamu harus lebih banyak istirahat. Jangan terlalu lelah. Jangan….”
Lalu berbagai larangan dalam bentuk kata jangan meluncur. Seperti biasa.

Aku cuma mengangguk. Pelan. Lalu melangkah menuju kamar.

Aku merasakan penat di sekujur tubuhku. Bukan saja karena terlalu jauh berjalan tapi karena beban yang bergelayut sejak tadi sore. Ah, andai saja aku bisa menguraikan alasan atas pertanyaan-pertanyaan itu. Aku bisa sedikit lega. Setidaknya kata rela menjadi akhir yang baik untuk kisah kami. Tapi aku tak mau ada pemeran baru lagi dalam drama memilukan ini. Biarlah.

Baru saja aku hendak menjejal lantai kamar tidurku, tiba-tiba saja aku merasakan beribu-ribu jarum menghujam kepalaku. Menghujaniku dengan nyeri bukan kepalang. Lalu bongkahan-bongkahan es menindih otak bagian belakang. Bertubi-tubi. Lalu nyeri itu menjalar ke seluruh pusat syaraf. Aku berhenti sejenak. Dan memegangi daun pintu yang sekejab saja beralih fungsi sebagai penopangku.

Aku mengigit bibir. Berusaha menahan rasa sakit. Tapi jarum-jarum itu terus saja tumpah ruah di kepalaku.

Bau amis merebak di seluruh ruangan.

Pandanganku mulai mengabur. Dunia seakan berputar serupa spiral. Seluruh perkakas yang ada di ruangan ini pun berubah warna. Abu-abu. Aku mengerang.

“Dinda!!”

Masih sempat aku mendengar mama memekik. Panik. Sebelum kelam menyergapku. Sebelum aku merasakan kaku di setiap sendiku.
Lalu di sekelilingku cuma ada warna hitam. Pekat.
Senyap.

***

Aku masih melangkah. Entah sudah berapa lama. Aku pun tak tahu. Aku cuma ingin melangkah dan terus melangkah. Melarung seluruh duka dalam tetesan air hujan. lalu membiarkannya meluruh menuju laut. Aku sudah terlalu lelah. Bahkan air hujan yang melekat di tubuhku telah mengering sedari tadi. Pertanda sudah cukup lama aku menyusuri malam. Sendirian.

Aku masih tidak percaya dengan pernyataan Dinda tadi. Padahal aku merasa tidak ada yang salah di antara kami. Bahkan kemarin sore kami masih merangkai mimpi bersama-sama. Tak lupa membubuhkan sedikit sumpah dalam kata setia. Manis. Tapi mengapa harus ada kata perpisahan?

Tiba-tiba prasangka memenuhi kepalaku bila gadis yang senantiasa memenuhi rongga hatiku itu ternyata tak merasakan rasa yang sama dengan rasaku. Ah, mungkinkah?

Aku masih terus melangkah. Entah sudah sejauh mana. Aku tak tahu. Aku cuma tahu bila kakiku sudah terlalu penat dan enggan untuk meneruskan perjalanan lagi. Apakah penat itu juga yang memenuhi hati Dinda sehingga dia memutuskan untuk berhenti melukis hari bersamaku? Hah, dadaku sesak.

Aku memasuki pekarangan rumah dengan gontai. Mendorong pintu pagar. Tak bersemangat. Saat ini aku cuma ingin membenamkan penat di ranjang. Lalu terbangun esok pagi dengan seulas sapa hangat. Seperti biasa. Cuma mimpi, demikian aku akan mengguman. Mungkinkah.

Tapi langkahku seketika merandek saat menemukan satu sosok yang mematung di teras. Sosok itu terpaku dengan kepala menunduk.

“Dinda?” desisku. Heran.

Aku mempercepat langkah. Aku ingin memastikan apakah sosok itu benar-benar Dinda. Benar. Itu Dindaku. Ah, ternyata tadi sore cuma bagian dari keisengannya. Ada sedikit lega dalam dadaku.

“Dinda…”

Dia mengangkat wajah. Begitu melihatku, Dinda segera berlari ke arahku. Lalu menghambur dalam pelukanku. Erat sekali.

“Maafkan aku, Re”

Ada isak tertumpah dalam dada. Aku membelai rambutnya. Lembut.
Tidak. Aku takkan pernah bisa mempersalahkan gadis ini apalagi menudingnya sebagai pengkhianat dari sumpah yang pernah kami urai bersama. Akupun tak sanggup bila dia benar-benar menghilang dari tatapanku, seperti sore tadi. Jangan lagi memerankan lakon seperti tadi, pintaku dalam hati.

“Maafkan aku, Re” ucapnya. Berkali-kali. Tanpa henti. Aku mengangguk. Ada seribu maaf untuknya. Selalu.

Aku menuntun gadis itu menuju rumah. Tapi dia menolak. Lalu aku membimbingnya menuju kursi taman. Ah, wajah itu sungguh pucat. ada lelah menggantung di matanya. Bibirnya membiru. Dan tubuhnya terasa begitu beku. Mungkin angin malam telah menyusupkan gigil ke sekujur tubuhnya. Atau mungkin dia terlalu lama memeluk tangis. Dia terlihat begitu keletihan. Ringkih.

Aku pun menawarkan segelas teh hangat. Dia mengangguk. Lalu aku beranjak menuju rumah. Tapi jemarinya menahan langkahku.

“Re, kamu tidak marah padaku ‘kan?” tanyanya. Lagi.

Aku berjongkok. Menyapu wajah gadis itu dengan tatapan lembut. Dia menggigit bibir.

“Aku takkan pernah bisa marah apalagi membencimu, Din,” jawabku. Pasti. Lalu dia memelukku. Erat. Bahkan lebih erat dari sebelumnya. Aku merasakan dingin di sekujur tubuh itu.

“Terima kasih, Re” tuturnya. “ Setidaknya aku bisa lebih merelakan takdir.”

Aku bingung. Tak mengerti sedikit pun.

“Terima kasih,” ulangnya. Lagi. Sesaat sebelum aku menghilang di balik pintu. Dengan tergesa aku melangkah menuju dapur. Menyeduh segelas teh penawar beku.

“Din, ini teh hangat un…”

Ucapanku terhenti. Tak ada siapapun. Aku mencari sosok Dinda di seluruh taman. Tapi aku cuma menemukan sepi.

“Dinda?” panggilku. Tak ada sahutan. Aku celingak-celinguk. Tapi tak jua aku menemukannya.

Dinda?


***

Grek-grek-grek…

Terdengar suara derak-derak roda berpacu dengan panik. Beberapa wajah membiaskan raut cemas dengan napas menderu. Sementara derap langkah tergesa-gesa membuat suasana di tempat ini semakin mencekam.

“Maaf, sebaiknya anda menunggu di luar,” cegah wanita berseragam putih itu. Langkah mama tertahan. Dia menyempatkan diri ‘tuk menjenguk ke arah dalam. Di sana sosok putri bungsunya terbujur kaku dengan wajah kesakitan.

Lampu di atas tulisan ICU menyala. Semua terdiam dalam cemas yang teramat sangat. Papa memeluk mama yang sekuat tenaga menahan isak. Sementara Ina mondar-mandir di depan pintu ruangan berlabel ICU itu. semua membisu dalam kaku.

Sudah hampir 1 jam. Tak ada pemberitahuan apapun. Ruangan itu masih membeku. Tak ada tanda-tanda akan terbuka. Dan mereka terus menggigil dalam cemas.

Krek…!

Pintu menguak. Setiap kepala mendongak. Satu sosok menyembul dari balik pintu.

“Dokter, bagaimana kondisi Dinda?” Cecar mereka dengan napas tersengal. Sosok berseragam putih yang mereka panggil Dokter itu mendesah. Dia mengusap tetes-tetes letih di dahinya. Lalu membuka masker yang membalut hampir separuh wajahnya.

Mereka menahan napas. Berharap bahwa kabar baik yang akan meluncur dari sang dokter. Bukan berharap tapi meminta karena mereka belum siap mendengar hal buruk tentang Dinda.

“Maaf, kami telah berusaha semaksimal mungkin. Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain. Kam…”

Belum lagi dokter selesai mengumumkan berita tersebut. Mama telah histeris. Beliau memaksa masuk ke dalam ruangan.
Dinda!!!



***

sebelumnya...

“Lihat, Din. Sepertinya langit mulai mendung,“ ucap Reza dengan gembira sambil menunjuk ke atas. “Sebentar lagi kita akan bermain di bawah Rinai”

Gadis yang ada di sampingnya tak menyahut. Seperti biasanya. Reza bingung karena dia menemukan mendung juga menggantung di mata kekasihnya. Padahal biasanya gadis ini akan menari bersama irama hujan. Menikmati setiap desis angin dan gemericik air.

“Din…” Dinda memalingkan wajahnya

“Re, aku ingin semuanya berakhir.” ujar Dinda

Reza terperanjat.

“Maksud kamu?”

“Aku ingin mengakhiri hubungan ini. Kita mengambil jalan masing-masing.”

“Kamu bercanda bukan? Ini cuma…”

“Tidak, Re. ini bukan sekedar lelucon,” potong Dinda. Cepat.

“Tapi kenapa, Din? Apa aku telah menyakitimu? Apa aku telah membuatmu tidak nyaman? Beri aku alasan untuk menerima keputusan ini.”

Tak ada jawaban.

Dinda cuma menunduk. Reza tak bisa meneriman keputusan ini. Dia terus mencecar gadis itu dengan berjuta kenapa. Tapi Dinda tetap membisu.
“Maaf, Re.”

***

Epilog:

Mendung menggantung di langit. Pekat berarak lalu perlahan-lahan menelan binar mentari. Desik-desik angin bergelayut. Manja. Menyusupkan gigil di setiap sendi.

Reza masih terpaku di sana. Menatap luruh ke arah gundukan tanah yang masih memerah. Dia meraba selembar papan yang menancap di atas gundukan itu. Ada sebaris nama tertulis di sana: Dinda puspita.

Ah, ternyata gadis itu memikul beban yang begitu berat sendirian. Dia tidak mau berbagi karena tidak mau dikasihani bahkan oleh Reza sekalipun. Dia ingin normal seperti gadis-gadis lain walaupun dengan kanker bersarang di kepalanya.

Kelam kian pekat di langit. Gesekan dedaunan juga suara hempasan angin kian kencang. Lalu titik-titik hujan mulai tercurah. Reza beranjak meninggalkan tempat ini. sejenak dia menengadah ke Langit. Lalu melangkah pergi.

Din, Sebentar lagi kita akan bermain di bawah Hujan.

AYAH :')



sedikit menyesal kenapa gue baru bisa bikin ini sekarang.. :(


ayah,,

senyummu, gelakmu, marahmu

masih selalu kukenang sebagai pengantar tidurku

masih ingatkah kau ketika aku terjatuh dari sepeda roda tigaku?

kau berlari mengejarku, walau harus melompat tembok batu




ayah,,

nasehatmu kujadikan wallpaper dilaptopku

fotomu kuedit, kusatukan bersama foto ibu

kujadikan screen saverku,

terkadang kudiamkan saja notebookku

disaat aku ingin untuk menangisimu

merindukan soskmu yang hilang dimataku




ayah,,

liburan kemarin aku senang senang

tapi maafkan aku, karena tak berkunjung datang

kubiarkan tanahmu ditumbuhi ilalang

kubiarkan gundukanmu kering kerontang

bukan aku tak mau datang

aku takut tak sanggup pulang

aku takut terang menjadi petang

dan kembali kuingat saat nyawamu meregang




ayah pun berkata di rumah barunya,

berbisik pada munkar nakir

bercengkrama dengan rakib atit

dan menitip pesan pada Sang Khalik,




biarlah aku yang pulang, menanti anakku hingga petang

menanti doa dari anak-anak yang kucintai

sampai mereka dapat temaniku disini

SEMPURNAKAH AKU SEBAGAI MANUSIA?

Sempurnakah aku sebagai manusia? Dahulu sekali, saat aku masih kecil dan mempunyai banyak mimpi yang bertebaran, aku menginginkan semua hal yang waktu aku impikan. Melihat kegagalan orang lain dengan sedikit sikap meremehkan seraya berkata, “Aku tidak akan seperti mereka karena aku mampu, aku lebih pintar. Memang kenapa mereka bisa gagal ?”. Mungkin itu yang namanya sinis, tapi aku masih terlalu kecil untuk mengerti kata itu. Kemudian aku terus melangkah dengan sejuta mimpi itu.

Semakin aku melangkah semakin mereka bertanya, “Nanti mau jadi apa ?” Tak pernah ada jawaban yang sama yang keluar dari mulutku. Di satu saat aku ingin jadi astronot, di waktu lain aku ingin punya usaha salon, dan di waktu lain aku bilang tidak tahu. Lelah aku karena pertanyaan itu akan membawa mereka ke dalam perbandingan dengan orang lain. Ataukah mereka membandingkan dengan diri mereka sendiri yang telah gagal mencapai mimpi mereka sendiri ? Sesungguhnya aku hanya ingin menjadi diriku sendiri yang ingin menjadi semua orang. Serakahkah aku apabila aku di waktu lain aku ingin seperti si A sedang untuk hal lain aku ingin seperti si B. Ada persamaan antara si A, si B, bahkan hingga si Z. Mereka sama dengan aku, tetapi apa yang kemudian membedakan mereka dengan aku? Dan aku pun terus melangkah.

Beranjak remaja aku mulai merasakan apa rasanya jatuh cinta dan patah hati. Saat kau jatuh cinta kau serasa terbang di atas bumi, mencoba sekedar mengintip bagaimana itu surga. Di saat kau patah hati, sayap itu akan hilang berubah menjadi beban yang menghempaskanmu ke bumi seperti hukum alam fisika. Bebannya yang berat membuat kau lebih sakit. Namun di waktu itu kau akhirnya tersadar sebagai satu manusia di tengah-tengah masyarakat dengan aturannya. Aku melihat mereka sebagai diriku, manusia yang gagal dalam mencapai mimpinya. Aku mulai melangkah tetapi beban yang membawaku jatuh membuatku seraya tersiksa dengan setiap jejakku.

Tidak pernah saat aku kecil, melihat dunia ini yang penuh dengan beban, peraturan, kewajiban, dan tanggung jawab. Sewaktu ku kecil aku hanya bisa melihat mimpi seperti bintang yang bertebaran di langit. Sekarang tidak satu pun bintang yang tampak, hanya kilaunya matahari yang membutakan langkahku dan membakar setiap luka yang terbuka.

Apakah ini manusia, mahluk yang dibatasi sendiri dengan keterbatasannya dalam mencapai kesempurnaan ? Mimpi-mimpiku dahulu sangatlah sempurna, orang yang sangat bahagia, sukses dalam segala hal, tidak ada kekurangan dalam hal materi, dan memiliki seluruh waktu di dunia untuknya sendiri.

Seperti dibangunkan oleh suara halilintar, aku ketakutan. Aku ingin terbang kembali atau setidaknya pergi ke dataran tempat aku kecil dahulu. Lupa bahwa semakin aku ingin terbang, tanggung jawab dan beban itu semakin membebaniku seperti hukum alam lainnya. Hanya di saat seperti inilah kemudian aku melihat ke atas dan tanpa terasa butir demi butir air mendinginkan lukaku untuk sementara. Aku mengucapkan bahasa yang hanya dimengerti semesta karena semestalah yang membawaku ke dasar ini.

Aku hanya ingin sempurna.

tongkat ini adalah tanganmu, ibu :)

Baru saja gadis kecil itu menyanyikan lagu. Lagu Bintang Kecil dengan suara merdunya. Diakhiri tepukan tangan anak-anak beserta ibu-ibu muda mereka yang hadir. Sangat meriah, meskipun tidak lebih dari lima belas anak yang hadir. Di sana, di sebuah ruang kelas taman kanak-kanak yang terletak di sudut kota kecil yang indah.

Tangan gadis kecil itu saat ini bersatu dengan tangan sang bunda yang menuntunnya berjalan pulang di suatu tepian jalan yang sepi. Gadis kecil itu memakai baju yang paling bagus hari ini, warna putih dengan bordiran halus dilengannya, dan panjangnya hanya sedikit dibawah lutut. Sepatu hitam bersih dengan rambut di kuncir dua.

Sambil berjalan gadis kecil terus bertanya kepada ibunya

“Bintang itu bagaimana bentuknya,Bunda?”
“Bintang itu bulat, sayang,”
“Bulat! bulat bagaimana Bunda?”

Ibunya hanya terdiam belum sempat memberi jawaban. Mamun ia bertanya lagi.

“Apakah bintang sama seperti matahari Bunda?”
“Tidak, matahari lebih terang dari bintang”
“Hmm... aku tahu bunda, karena bintang lebih kecil dari matahari kan” Gadis kecil itu teringat, teringat lagu yang barusan ia nyanyikan, lagu yang pertama diajarkan disekolah, dan lagu yang susah payah ia ingat.

“Bintang temannya juga banyak kan Bunda?” Ia teringat syair lagu yang ia nyanyikan pagi ini, Amat banyak menghias angkasa.
“Iya bener, anak Bunda memang pintar deh!” Gadis itu tersenyum ketika pendengarannya yang tajam menangkap sebuah pujian dari bundanya yang tulus. Karena bundanya selalu tulus. Hati gadis kecil itu terlalu tajam untuk mengerti.

Percakapan mereka berhenti sebentar kala anak itu menadahkan muka keatas. Ibunya memperhatikan dengan senyum, ada sebutir keringat disamping alis anaknya yang tebal akan segera menetes. Sapu tangan berwarna jingga keluar dari tas kecil sang ibu, dengan itu sang bunda menangkap butiran air itu. Lebih cepat dari matahari menguapkan.

Langkah kaki kecil itu beriring dengan langkah bundanya yang sabar mengikuti. Dan tangan itu tak pernah terlepas. Tetap erat berpegangan, sesekali tegangannya menguat kala anak itu sedikit melebarkan langkah ke badan jalan atau saat berbelok di tikungan. Sang bunda ingin membawa anaknya ke jalan yang benar, jalan pulang. Meski kadang jalan itu tak sama dengan jalan pergi.

Pemandangan masih sama setiap hari, di sebelah jalan ada kebun kebun yang ditumbuhi bunga, dan macam-macam sayuran. Bunga melati tumbuh di pematang batas antara kebun dan jalan. Maka melati lebih cocok disebut pagar. Ia tumbuh dengan liar, tidak seperti mawar yang ditanam, dipotong dan dijual. Aroma melati diberikan bebas, siapun saja yang lewat di jalan itu, meskipun batangnya kadang ditebas karena dikira menggangu mawar.

“Bunda, pasti ini aroma melati,” Gadis kecil itu hafal benar aroma melati yang mengepung masuk dengan sukarela kedalam hidungnya.
“Bisa nggak Bunda memetikkan untukku!”, Sang bunda meraih satu kuntum melati yang berwarna putih. Tangan kiri sang anak menadah. Sedang tangan kanannya masih berpegang erat ketangan kiri sang bunda. Bundanya tak rela melepaskan tangan kanan anak itu yang sedang bertaut erat sedari tadi, kemarin juga, hari-hari sebelumnya juga, hanya sekali waktu dilepas. Hanya ketika anaknya itu sedang menikmati mimpi malamnya. Tangan kiri selalu sopan untuk menerima hanya buat anaknya yang satu ini,tapi tidak untuk anak-anak yang lain.

“Hai..Bu, dari sekolahan ya!” Suara seorang perempuan menyahut, mereka berdialog kemudian, gadis kecil itu diam mendengar dialog ibu-ibu muda yang hanya ia mengerti sebagian, bagian yang lain belum ada dikepalanya. Yang ia dengar perempuan itu berkata “Memang dokter bilang apa?”. Tetapi ia tahu pasti dan hafal benar perempuan itu adalah tetangga depan rumah, anehnya ia tak tahu siapa yang sakit.

Dua puluh satu hari berikutnya sang bunda mulai batuk-batuk dan hanya sanggup berbaring, tiga puluh hari sesudahnya ia telah pulang dari perawatan di rumah sakit, tetapi bukan sembuh ia kini. Malah Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, tangan kanannya tak berasa, kaki kakinya telah kehilangan otot, iapun kehilangan suaranya, cuman matanya saja yang masih jernih. Sudah banyak dokter yang datang atau didatangi dan semuanya berkata “Berdoa ya bu”. Ia bersedih bukan karena tubuhnya yang lemah atau takut kematian, tetapi tangan kirinya sudah hampir dua bulan terlepas dari gadis kecilnya, anak yang yang sangat ia cintai.

“Bunda!” gadis kecil itu mengeluarkan suara, yang sedari tadi sejak ibunya datang dari rumah sakit dia ada disamping tempat tidur. Tangan kanannya meraba memegang erat tangan kiri sang bunda yang telah mati rasa. Ibu itu masih mendengarnya, tetapi tak mampu membalas. Hatinya hancur-remuk akan dunia dan satu kekawatiran, namun jiwanya masih bersatu degan Tuhan yang kini berdialog.

“Tuhan ijinkan aku mati, jika disinipun aku tak bisa menuntun anakku. Tetapi biarkan tangan kiriku tetap tinggal di disini ”. Perempuan itu menutup mata dan pergi, sedang si gadis kecil belum tahu hingga gelap menjelang saat tubuh ibunya dirasa kaku dan mendingin. Seketika tangisnya pecah. Ia belum pernah satu kalipun melihat wajah bundanya yang kini telah pergi.

Gadis kecil itu tak mau berpegangan tangan dengan siapapun kini. Ia yakin tongkat kayu yang ada ditangan kanannya, yang menuntunnya menyusuri setiap jalan, adalah tangan kiri ibunya.




kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa.. :)

a letter for my (imagine) father ..

Kebimbangan ini bagai lingkaran yang mengurung diriku begitu rupa, bagaimana aku bisa menjelaskan ini semua kepadamu , Pak? Mataku Cuma bisa basah, rupanya hanya dengan cara ini aku bisa merasakan kerinduanku. Pada jarak kita yang sangat jauh, juga dalam rentang waktu yang panjang, masih juga kurindui engkau. Banyak sesalku yang takkan bisa tersampaikan padamu, disaat kau tak ada, aku baru merasai sepinya kesendirian ini.

__________________________________________________________________________________


Mungkin aku adalah anakmu yang selalu membuat hatimu kesal ?(jemariku terhenti menggerakkan pena). Air tidak hanya menetes di mataku tapi juga menyumbat deras pernafasanku, pedih ini lebih dari yang kuduga. Lalu gambaran ketika kau ada berseliweran saling tubruk di kepalaku. Aku ingin menguraikannya satu persatu agar kenangan kita dahulu dapat menjawab rindu ini yang sangat begitu sepi. Aku ingin pedih ini merobek-robek setiap keangkuhan yang aku punyai, lalu aku cuma selembar jiwa yang telungkup di pangkuanmu (suatu kemustahilan, kau telah jauh. Pun ketika kau dekat, aku tak pernah begitu).

Bapak, aku merasa kau ada di dekatku sekarang, tidak dengan sapu lidi dalam genggamanmu yang bisa membuat betisku merah, tapi kau letakkan tanganmu yang lemah di pangkuanku, juga menemaniku menulis surat ini, menuntun hatiku untuk bisa menjadi hangat bersamamu. Tahukah engkau,Bapak, aku ingin berada di pelukmu sebentar saja, tapi tidak dengan baju kebesaranmu dangan tanda jasa dan hiasan bintang di pundakmu. Semua itu membuatku selalu takut, juga untuk menatap matamu, apalagi berlindung di dadamu karena yang kutangkap hanya debur jantung yang selalu siap meledakkan amarah. Namaun sepanjang kita bersama, aku tidak pernah mengimpikan orang lain untuk menjadi bapakku. Kau tetap bapakku, yang telah memberikan rasa tentram sekaligus rasa takut.

Selama kita bersama aku belum pernah begitu berupaya untuk membuat hatimu bahagia, juara kelasku pada tiap jenjang pendidikan bukan untuk kupersembahkan kepadmu, pun begitu dengan prestasiku yang lain bukan untuk membuatmu bangga. Ah Bapak, jika itu untukmu maka kau akan merasa benar bahwa kekerasanmu membuahkan hasil. Semua yang kuraih untuk diriku sendiri, aku begitu keras hati sebab itupun aku tidak arus merasa sedih saat tak satupun pujian kau lontarkan untukku.

Banyak hal yang tidak pernah kuungkapkan kepadamu. Kau bisa luar biasa marah ketika itu bahkan akan mengusirku dari rumah. Tak layak tentu aku menjadi anakmu. Lalu aku akan tinggal di jalanan atau membiarkanku berlimpahan kenistaan sekalian.

Betapa jahatnya aku.Rahasia nista ini aku simpan darimu hanya karena aku takut berhadapan dengan kemarahanmu, bukan karena aku telah melukai hatimu. Ah bapak, terima sungkem dari anakmu ini. Aku menikam berulang-ulang hatiku sendiri sampai kini, bukan kau yang melakukannya, tapu diriku sendiri, meski cuma kekuatan menusukkan belati yang aku miliki yang tertinggal di sisa tenagaku.

Cinta di usia belia bagaikan kobaran api yang menghangsukan tempatnya tumbuh. Laki-laki yang kurelakan menyimpan benihnya di rahimku, juga kurelakan pergi meninggalkan aku. Hanya Ibu yang menangis, dengan tatapan penuh rasa luka dan marah. Anak bungsunya menggugurkan kehamilan yang didapat dari hubungan di luar nikah. Aku Cuma bisa memohon pada ibu untuk tidak mengatakan apapun padamu. Jangan menyalahkan ibu untuk rahasia nista ini. Ibu hanya tidak mau membuat dirimu terluka dan ia menanggungkannya sendirian. Aku telah melukai hati , Ibu, menyakiti hati perempuan yang kau cintai sepenuh jiwa sepanjang hidupmu, maka terimalah ampunku untuk itu.
Masih jelas tergambar ketika itu, kau tetap saja menunjukkan dirimu sebagai bapak yang perkasa dan tegar, meski kau tergolek di atas ranjang yang dikelilingin dengan alat pencuci darah. Suara mesin itu, Pak, memekakakkan telinga dan jantungku bersamaan, membuatku menangis tanpa suara dan air mata. Aku cuma berdiri di sisimu dan tidak juga kau raih jemariku yang menanti penuh harap untuk kau genggam. Betapa ingin kudengar kau katakana sakitmu padaku dengan demikian aku merasa berarti aku menjadi anakmu. Berbagilah, meski tak kurasakan sayatan di perutmu, untuk merelakan darah itu mengalir hilir mudik keluar masuk mesin untuk dicuci.

Di sepanjang tahun sakitmu, kau tetap saja Bapakku dengan wajah dan watak yang keras, melunaklah sedikit seperti organ tubuhmu yang telah aus. Luka di hatiku karena cinta yang kuyakini membuatku mekin terengah meraih – raih hangat dekapan kelembutan cinta seorang Bapak. Aku sepenuhnya yakin, bahwa hanya kau yang mampu mengobatiku.
Bapak, berapa kali aku tidak dapat menahan marahku kepadamu. Dan kau hanya terduduk lesu tanpa ekspresi sambil membiarkan ujung-ujung jarimu yang berdarah. Kau siksa aku terus menerus dengan sakitmu, kau biarkan tanganmu yang telah lumpuh sebelah itu berusaha menggunting kukumu di jemari yang lain karena telah panjang sebagian. Sementara kau biarkan aku tertawa lepas menikmati tontonan menarik di layar televisi di seberang kamarmu. Kenapa tidak juga kau memintaku untuk melakukannya? Mintalah bantuanku, Pak. Tidakkah kau anggap aku ada di sebelahmu?

Juga ketika kau roboh di balik pintu ruang tempat satu-satunya dimana kau habiskan keyidakberdayaanmu, bahkan memanggil namaku pun tidak, kau bersusah payah memapah tubuhmu untuk berdiri, sekali lagi kudapati kau tanpa ekspresi terduduk di lantai bersimpuh dengan kain sarungmu. Ya Tuhan, mengapa kau begitu sombong? Memakai sarungpun kau sudah tidak bisa, mintalah aku melakukannya untukmu. Aku hanya bisa berteriak-teriak, meyakinkanmu bahwa aku selalu ada di sisimu, membantumu dengan ketulusan dan cintaku. Tetapi kau, sekali lagi tidak pernah memperhitungkan aku. Kau hanya menatapku tak berkedip tanpa berkata apapun, namun berjuta makna terbaca di sana. Tentang amarah yang terpendam, tentang rindu yang terbenam, tentang asa yang tenggelam. Ah, matamu tegas menikam kepedihanku, kuat sekali.

Akulah satu-satunya anakmu yang masih tinggal pada atap yang sama. Aku akan menjagamu ketika ibu berangkat ke tanah suci disaat penyakitmu datang. Mengeluhlah kepadaku, Pak. Merataplah kepadaku akan sakitmu. Demi Tuhan, dingin gigil ruang yang berjarak pada diri kita tak akan mampu meluluh leburkan benih kasih sayangku kepadamu. Jangan biarkan aku menjadi orang asing di hadapanmu.

Aku adalah pewaris sikap dan watak kerasmu di antara saudara-saudaraku. Sehingga di antara kita selalu saja ada percikan api yang menggeremang. Suara-suara lantang yang bertabrakan dan memantul-mantul di setiap ruang saat kita berselisih paham. Ketika kecil aku hanya menangis menerima sentilan keras yang menciptakan merah ungu di telingaku. Juga cubitan jemarimu yang gempal di pahaku nan membiru. Segala hal berbeda ketika aku bertambah besar, setinggi tubuhmu, kuperlihatkan ketidaksukaanku, mempertentangkan habis-habisan segala peraturanmu. Aku belajar menentangmu, Pak. Namun aku mencintaimu sangat. Andai engkau tahu itu………

Kau selalu menyebutku pembangkang, bahkan semua saudara dan ibu memberiku predikat demikian. Mungkin semua itu benar, namun bukan berarti aku tak pernah mengasihi dirimu, tempat dimana segala energi pemberontakanku terpusat.

Bapak, ingatkah? Saat itu seorang laki-laki yang begitu dekat dan hangat datang di tengah kita dan kemudian memintaku untuk menjadi istrinya. Dia datang kepadamu menawarkan cinta dan ketulusan untukku, anakmu, yang sampai usia ke dua puluh enamnya selalu saja patah hati, tersakiti berulang kali. Kau selalu saja pergoki aku menangis sendirian d kamar setiap kali laki-laki telah menyakitiku, untuk menangispun aku harus bersembunyi. Aku tidak ingin nampak lemah di hadapanmu.

Aku hampir tidak percaya ketika kau setuju dengan laki-laki itu. Bagaimana mungkin aku menikah dengannya secepat itu? Kau tahu aku baru saja patah cinta dengan seseorang yang lain. Apa yang ia tawarkan kepadamu , Pak? Tidak harta, tidak kaya. Ia hanya seorang laki-laki yang sederhana, tapi memang ia menawarkan cintanya yang tampak begitu besar di matamu. Bagimu ia laki-laki yang tepat untuk menjaga dan mencintaiku. Dan laki-laki itu benar-benar tidak dapat menutupi keinginannya saat menatapku, bahwa sesungguhnya ia demikian berhasrat. Aku peka, aku perempuan yang bisa membaca karena terbiasa terlanda. Tatapannya mengingatkanku pada sorot mata laki-laki di masa laluku yang tak pernah kau tahu.

Akhirnya aku berusaha membina dan belajar mencintainya, namun tidak dapat lagi aku teruskan. Aku menentang pernikahan ini, telah kupersiapkan dengan matang rencana kepergianku dari rumah. Ketika seluruh saudara dan ibu tidak dapat membendung kekerasan hatiku lagi untuk pergi dari rumah dan beranjak dari kehidupan kalian, kau datang menghampiriku di kamar dengan tergopoh-gopoh susah payah berjalan karena stroke yang melumpuhkan separuh badanmu.

Kau, seorang Bapak yang demikian ku kenal, yang selalu berbicara dengan suara lantang dan tegas, yang tiap kali menggeletarkan ruangan di mana kita berselisih, kini terengah menyeret dengan kekuatan sebelah tubuhmu untuk memintaku agar tetap tinggal dan menikah dengan laki-laki itu. Matamu basah, Pak. Itulah air mata pertama yang kau deraikan untukku. Aku belum pernah melihatmu menangis………

Suaramu tak lagi garang, tatapanmu tak lagi menikam, dengan kata-kata yang sulit kau ucapkan karena lidahmu yang telah kelu sebelah, kau memohon padaku untuk tidak pergi, untuk membahagiakanmu, untuk menikahi laki-laki itu sebelum kau bertemu ajalmu. Tak sanggup lagi kudengar suaramu yang terbata dan tidak jelas, kita berpelukan dengan haus dan air mataku yang tumpah ruah di dadamu, betapa kuinginkan dekap hangat seperti ini sejak dulu. Maka Bapak, cintaku padamu yang terpendam berhamburan ke permukaan hatiku, meluluhlah keras hati kita. Aku akan membayar mahal dengan mengabulkan permintaanmu.
Apalah artinya kemudian segala yang harus kutunaikan dibanding hangat hatiku berada di pelukmu, mendengarmu pintamu untuk dibahagiakan. Aku menjadi demikian berarti bagimu. Kepatuhan terbesarku ini akan ku persembahkan padamu, tanpa perasaan terhina, terluka, menekan amarah, namun karena rasa cintaku yang terlampau besar padamu.

Sekian tahun telah kulampaui sesudahnya, dan bisakah kau menerima hal ini sebagai hal terbaik yang mesti kini kutempuhi? Bukan berarti aku tidak bisa memegang janjiku padamu. Namun percayalah kali ini dengan segala kerendahan hatiku , aku bersimpuh di ujung kakimu, bahwa perpisahanku dengan laki-laki pilihanmu adalah jalan kehidupanku yang terbaik juga bagi kedua belah jiwaku, cucu-cucumu. Bukankah hidup hanya sederetan pilihan yang mesti di tempuhi? Dan langkah ini yang harus kupilih dengan segala resiko yang mesti kuhadapi di sepanjang jalannya. Jangan bersedih, bapak. Karena meski aku menangis namun aku sedang menyenangkan diriku sendiri, dalam tangis ini, bukankah dengan ini kita akan selalu merasa bersama serentang apapun jarak di antara kita? Kapan lagi aku bisa menikmati kepedihan ini dengan penuh rasa bahagia.

Namun sampai detik ini masih saja kusemayamkan rinduku dengan sederet rasa sesal yang saling berkejaran, betapa banyak hal yang belum kupersembahkan kepadamu. Aku tidak pernah merasa begitu dekat denganmu sebelumnya, hati kita. Aku ingin kau dekat denganku, mengulang kembali segala kejadian agar aku bisa merasakan kasih sayangmu yang kini kurasakan begitu luar biasa. Aku ingin punahkan pertengkaran-pertengkaran kita bahkan dalam bisupun hal itu selalu saja erat melekat padaku ketika itu. Maafkan atas segala prasangka burukku kepadamu. Kubiarkan puluhan tahun aku menjadikanmu sosok yang kerap kali lebih kejam dari yang kau perlihatkan. Tapi kini aku tidak bisa mengingkarinya (meski ku tak ingin ingkari lagi) bahwa kau adalah seorang Bapak yang punya rasa cinta besar kepadaku, dan dengan kekerasan juga ketegasanmu membuatku kini kuat menghadapi coba hidup. Ini berkatmu, kuwarisi ketegaran dan ketabahanmu yang sesungguhnya.

Bapak, terima simpuhku di sudut kakimu dengan segala maaf dan terima kasihku kepadamu. Atas dasar kasih sayang yang tak mengenal kata akhir, anakmu.

Kututup halaman buku harianku yang telah menjadi saksi pengakuan dosaku itu. Kuraih selembar foto, gambar itu bercerita banyak; seorang anak kecil dengan mata berbinar sedang duduk di bebatuan air terjun bersama seorang laki-laki gagah, aku dan Bapakku. Bahagianya kami ketika itu, mengejar kupu-kupu di pemandian air terjun Bantimurung. Pipiku membasah, ada kelegaan luar biasa yang mengalir bersamanya. Aku makin mencintaimu.

Kemudian sepiku terpecahkan dengan suara tapak kaki-kaki kecil yang berlarian dengan tawa canda riangnya. Mereka menghampiriku, berlomba menjatuhkan kepalanya ke pangkuanku, kurengku keduanya, kuciumi semuanya, aku menjerit dalam hati bahwa betapa aku masih jauh lebih beruntung dari pada mereka berdua, karena aku memiliki bapak yang bertanggung jawab dan penuh kasih, sedangkan anak-anakku tidak.

Mereka berdua bersahutan bertanya, meski sudah berulang kali kukatakan bahwa foto ini adalah Eyang kakung mereka. Dan berebut lontarkan tanya mengapa mereka tidak pernah bertemu dengan Eyangnya. Maka kujawab kesekian kalinya bahwa Eyang Kakung mereka ada di tempat yang sangat jauh, di surga. Lalu kami berlomba untuk saling berpelukan. Aku bahagia dalam tangis damai ini, dalam dekapan kedua anakku. Ini harta terbesarku darimu. Aku ingin selalu merasakan setiap detik yang membahagiakan, meski masih tebal terselubung luka di sebagian hatiku.

kamu :)

pada suatu masa, jauh sebelum kau sadari apa arti hidup, kau adalah tiupan ruh yang sedang mengadakan sebuah perjanjian..
Allah memberitahukan kepada kita (sang ruh), seluruh perjalanan hidup satu makhluk dari mulai ia menangis karena baru keluar dari rahim induknya, hingga kapan ia harus berpisah dengan jasadnya..
Allah bertanya padamu (tanpa kau sadari): ''apakah kau siap menjadi ruh makhluk ini?'' kau menjawab, ''ya, saya sanggup''..
Apakah artinya? Kau adalah ruh yang akan menghidupkan seorang manusia dengan mempertanggungjawabkan segala resiko.. Kau adalah ruh terbaik yang diciptakan untuk makhluk terbaik, yaitu manusia..


Dan apakah itu manusia? Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT yang PALING sempurna..
Kau mengalahkan keajaiban jagat raya, kau mengalahkan kilau warna bentangan tirai cahaya aurora di puncak gunung es..
Kau mengalahkan cantiknya bidadari surga.. Kau adalah makhluk yang diciptakan untuk memimpin seluruh ciptakan-Nya yang luar biasa itu..


Darimana manusia itu terbentuk? Manusia terbentuk dari cairan hina yang berisikan ciri khas seorang induk yang hanya sel itulah yang mampu mengerjakan tugas itu..
Ribuan bahkan ratus ribuan sel yang bernama sperma itu terdapat pada cairan mani itu..
Ketika mani disemprotkan, sel sperma beradu cepat untuk sampai pada sel ovum..
Apa itu sel ovum? Sel ovum adalah sel raksasa yang bersemayam di rahim seorang wanita yang benar benar mencintai pasangannya..
Dan ovum itu hanya menerima SATU sperma, ketika ovum bersatu dengan sperma, terjadilah proses pembuahan hingga melahirkan KAMU..


Jadi apa itu kamu? Kamu adalah makhluk yang paling sempurna, yang terbuat dari sel sperma yang terhebat, yang dihidupkan dari ruh yang terhebat pula.. Kau adalah seorang pemenang dan terus menjadi pemenang bahkan sebelum kau membuka mata pada alam dunia..


Jadi apa guna kau putus asa? Kamu sudah merasa kalah? Kamu adalah seorang pemenang, kawan.. Kamu adalah yang terhebat, kau adalah sosok makhluk yang diciptakan dengan bentuk yang paling sempurna.. Kau telah diciptakan untuk menang.. Jadi kau kira kau kalah? Tidak, kau menang.. Karena ketika kau tidak mendapat sesuatu yang kau ingingkan, sesungguhnya kau telah mendapat yang JAUH lebih baik, dan kau akan bangga dengan dirimu sendiri..

love and like ;)

In front of the person you love your heart beats
faster
But in front of the person you like you get happy.


In front of the person you love winter seems like
spring
But in front of the person you like winter is just
beautiful winter.


If you look into the eyes of the one you love you
blush
But if you look into the eyes of the one you like you
smile.


In front of the person you love you can't say
everything on your mind
But in front of the person you like you can.


In front of the person you love you tend to get shy
But in front of the person you like you can show your
own self.


The person you love comes into your mind every 2
minutes
You can't look straight into the eyes of the one you
love
But you can always smile into the eyes of the one you
like.


When the one you love is crying you cry with them
But when the one you like is crying you end up
comforting.


The feeling of love starts from the eye,
And the feeling of like starts from the ear.
So, if you stop liking a person you used to like,
All you need to do is cover your ears.
Then, like turns into love feeling.
But if you try to close your eyes
Love turns into a drop of tear and
remains in your heart forever after.

KETEMU ALMER :D

hiiiiiiii. ajib deh nih hari.
mana ujan, si iqbal kabur mulu dari sarangnya, bete gue, gue marah marah deh jadinya.

gue berharap nemu kejadian unik sore sore.

pas lagi liat liat dan beli dress di stand bazar, ada yg sms gue

77 tuti
geb, lo dateng ke bazkom gak?

karena lama kalo sms, gue telfon dia
terjadilah percakapan bodoh

t(tuti)
g(gebi)

g: halo, tuti? kenape cinta?
t: hah? ini siape?
g: oh ini gebi nomer xl. kenapa tadi nanya gue dibazkom kagak?
t: gapapa, ada almer mau kesitu
g: APA???! (mengedarkan mata keseluruh penjuru sekolah) almer yang kayak gimana sih?
t: yang paling cakep geb, cari aja (dengan nada menyakinkan)
g: (sambil mencari almer) hah? iya aaaaaaa (ada cowok ganteng pake baju item masuk kesekolah, gue panic).... AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
(gue teriak di telfon)
t: kenape geb?
g: iqbal tut, iqbal!
t: KENAPE?
g: GANTENG ANJIIIIR. UDEHAN YE PULSA MAHAL NIH. DADAH. SAMLEKOM!

beberapa saat gue cengo dan bingung, kok iqbal ganteng ye? ckck.
gaklama, gue telfon tuti again

t: halo kenape geb?
g: yaampun tut, iqbal ganteng! gue baru sadar iqbal ganteng hahaha. gantengan iqbal apa almer?
t: ya almer lah! iqbal apenye yang ganteng?
g: gue rasa gantengan iqbal. paling tuh ye si almer mirip aleale bapuk leher dakian muka bopengan gitu kan tut?
t: tai. YA KAGAK LAH! udeh cari aja yang ganteng!
g: oke deh


dan saat itu juga gue mencari cowok ganteng didalem bazkom


sambil muter muter, gue nunggu si iqbal dibawah terpal stand bazar (asek). biasalah, iqbal kan busy gitcuh. aku dtelantarkan. huaaaaaaaa
gue beli es buah jeli jeli gitu dan makan sama iqbal bareng uta dan pak nurdin.

tiba tiba ada sesosok (??) lelaki TAMPAN menghampiri iqbal
gue nggak ngeh kalo dia temennya iqbal. abis mungil banget. tiba tiba aja iqbal udh asik ngobrol.
gue namnya deh sama iqbal

g: bal, katanya tuti si almer mau dateng? mane?
i: lah INI APAAN? (nunjuk cowo ceking pake sendal jepit baju merah nyengir nyengir. persis anak ilang)
g: HAH? IYA APA? ASTAGHFIRULOH, KATA TUTI CAKEP?
dan siganteng pun bicara....


a: TUTI ITU TUKANG FITNAH. jangan percaya deh. FITNAH. DEMI ALLAH (sambil nyengir kuda berasa paling ganteng)
g: tapi kata tuti, lo ganteng
temen gue nyambung
uta: iya tadi ada yng bilang katanya gantengan iqbal
i: HAH? SIAPA YANG BILANG????? (heboh gitu berasa baru sekali dibilang ganteng)
g: SIAPE TA YANG BILANG IQBAL GANTENG? PARAH BANGET TUH FITNAH!
i: SIAPA YANG BILANG AKU GANTENG?? (ngeliat ke gue dengan muka mesem mesem)
g: heeeeeee, bukan aku kayaknya (terpaksa berbohong, hehehe)

iqbal dengan almer larut dalam tawa canda, membicarakan TETE yang hapenya mirip iqbal terus iqbal najis najis gitu. ckck seharam itukah tete? mereka membicarakan tentang barangnya tete yang kata iqbal cuma sejari kelingking. entah itu barang apa -,-
lalu iqbal masuk ke dalem sekolah. biasalah, bussiness man.
menelantarkan almer
lalu saya ajak almer berwisata di bazkom
eeeeeeeeeh, saya ditinggalin.


dasar pacar tuti gatau diri ahhahaha piss merrrrrr

Untukmu:

Untukmu:
Back to Top