Seakan kau masih mencinta
Seakan kau ada untukku
Seakan kau merindukanku
Aku menangis
Aku tersenyum
Aku menggumam
Aku bahagia
Aku terlena
Peran ini masih ku gemari.
Antologi kata; Analogi rasa; Jemari bersabda.
Seperti tatkala kau menjalani hubungan yang mungkin terlalu membosankan untuk bersama namun terlalu sakit untuk ditinggalkan
Seperti ikatan simpul mati pada sepatu kesukaanmu
Carilah waktumu; untuk sesekali kita berjumpa.
Mungkin sudah terlalu sering bagimu menerima pesan bahwa aku merindu. Hingga kelamaan rindu yang kumaksud hilang makna,
Atau entahlah, mungkin memang kau butuh waktumu dengan duniamu - yang dahulu sering kau elukan, bahkan kau ajak aku mengenal lebih dalam akan itu.
Mungkin aksara dan waktu tak dapat bicara banyak, mungkin jemari yang selalu merajut kata rindu di tiap pesan yang selalu kukirimkan, tak lagi menjadi haru.
Atau mungkin (lagi-lagi) hanya aku yang salah; aku yang menjadi posesif - mengejarmu, menangkap, yang bahkan kau sendiri enggan kudekap lagi..
Bisa jadi, aku yang memang tak pernah mengerti, akan kesibukanmu, atau aku yang tak pernah menyadari bahwa sebenarnya perjumpaan itu bukanlah sebuah masalah; toh, kau sudah penuhi kewajibanmu memberi kabar bahwa kau sudah bangun, sudah makan, dan bersiap pergi (lagi)?
Apa aku terlalu banyak menuntut? Apa menurutmu hanya bertemu saja menyiakan waktumu? Atau mungkin aku harus menghantuimu kemanapun kau pergi? Apakah aku meminta semua uangmu untuk ku pakai bersenang-senang saat kita bertemu?
Mungkin aku iri, karena kau bisa habiskan segala waktumu untuk duniamu yang ceria, sedangkan jika bersamaku, yang akan kau dengar hanya keluh kesah dan (lagi-lagi) rengekan rinduku?
Tak ada yang tahu.
Aku tak peduli jikalau kau tak merindu jua; sepertiku.
Cukuplah aku yang begitu,
Berbahagialah kau; dan duniamu
Karena mungkin - pada nyatanya, rinduku memang tak lagi membahagiakan..
Mungkin aku yang terlalu mengikuti; jika lepas sehari saja aku mulai depresi.
Mungkin aku yang merasa tak ada waktu untuk bersama; padahal hampir setiap hari aku dan dia berjumpa.
Mungkin aku merasa kekurangan waktu bercerita. Merasa kau yang hanya berbagi cerita saat kau akan terlelap dalam mimpi, atau aku yang jarang berbaur dengan duniamu? Entahlah..
Aku rasa aku mulai gila sekarang
Apa yang ada di depanku, sampai sekarang tak mampu kusentuh
Ya, engkau yang lupa akan janji malam ini
Mendengarkan keluh kesah dan ceritaku
Atau menemaniku minum susu hingga ku terlelap
Dapatkah aku berbicara dengan lampu?
Dapatkah aku berbicara pada lemari?
Dapatkah aku berbicara dengan guling
Yang selalu aku dan kau rebutkan
Saat ku ingin tidur siang?
Dalam ruang tiga kali kita
Bersama dinding yang penuh cerita
Aku berdiam diri di depan cermin seukuran tubuh
Aku mengerang; berteriak
Membenci raga yang ada di depanku
Seorang yang bodoh karena tak berani memulai tanya..
Dan mulai kehilangan ceritamu.
Jenuhkah kau padaku?
Lelahkah kau atas sikapku?
Kasih, aku harus bagaimana lagi..