Prasangka dan Dua Tangan Penutup Telinga

Kepadamu, yang hingga saat ini masih ku panggil kawan,

Aku tidak tahu apa yang menggerakkan jari saya untuk menulis ini untukmu, namun saya yakin saya harus menjelaskan ini padamu, walaupun akan sia-sia, dan kau pun tak akan membaca isi buku harianku ini :))

Betul, patah hati mengajarkan saya banyak hal, tentang cinta yang belum tuntas, rasa yang terlampau sempurna tanpa cacat, yang justru malah melukai satu sama lain.


Patah hati kali ini mengajarkan saya bahwa tak selamanya bisa mengharap kepada sesama manusia. Patah hati meninggalkan lebih banyak rasa dibanding jatuh cinta.

Ketika saya patah hati, saya merasa semesta seakan mengejek diriku. Hal-hal yang biasa saya lakukan jadi terasa menyakitkan. Begitu tidak enaknya berusaha tegar, seperti saat sedang menulis cerita ini, saya selalu terbayang-bayang akan kisah cinta kalian yang tak kunjung selesai, hingga pada akhirnya harus melukai tiga hati dalam satu waktu. Patah hati mampu membuat saya menangis tersedu bahkan saat melihat kue kesukaannya ada di etalase minimarket. Patah hati, mampu membuatku segila ini.

Dalam patah hati, saya selalu merasa sendiri. Tidak ada yang mampu saya ujarkan kepada siapapun, karena saya malu. Saya pun tak lagi mempercayai kawan sebagai 'orang-ketiga-serba-tahu' dalam hubungan ini.

Kawan, kau selalu tahu awal mula hubungan ini. Saat sata mengetuk pintu dan duduk di kursi tamu hatinya. Kau selalu memberi tahu, menjadi sosok tempatku berbagi suka dan luka. Kau, selalu bisa menjadi penenang saat semesta meyakinkanku bahwa semua ini hanya ketakutanku saja.

Namun pada akhirnya, kau memenangkannya. Saya tak lagi bisa mendengar cerita tentang kecerobohannya menaruh kunci motor ataupun lari dari pasang mata dosen pembimbing. Kau selalu bisa memenangkan hatinya dengan menikmati seduhan kopi di kedai kecil tempat ia utarakan niatnya untuk memenuhi mimpi saya dan dirinya.

Saya dihadapkan oleh dua pilihan, saat saya mengetahui ini semua: beranjak pergi, atau menata kembali. Saya pilih yang kedua, dan saya sudah yakinkan untuk tidak menyesali keputusan ini di lain waktu.

Marah kepadamu? Sungguh tidak, kawan. Saya berterima kasih kepada Semesta yang masih saja berbaik pada saya untuk selalu berbenah diri.

Bahkan, saat momentum bahagia dalam hidup kau, saya persilahkan Semesta untuk memberikan kesan terbaik kepada kawan terbaik yang dimilikinya. Meskipun kesan yang kau tunjukkan sangat datar, semoga engkau benar-benar mengerti maksudku.

Tapi, satu hal yang menjadi pikiran:

Kenapa, begitu banyak pasang mata yang malah melihat saya aneh?
Pasang mata yang menelanjangi, bahkan mengintimidasi atas pilihan yang telah diputuskan.
Saya risih, seolah saya yang merusak hubungan persahabatan ini.

Mereka anggap saya yang tamak, sehingga kau harus angkat kaki dan lari yang jauh.

Saya jengah, kawan..
Tapi saya tak bisa apa-apa

Bahkan dua tangan yang biasa saya gunakan tak lagi mempan meredam bising kisah legendaris kalian!



13/11/17
Tolong aku,
- G -

Ajari Aku

Ajari aku mengampuni luka dengan menimbun suka
Melupa luka dengan tak membenci kenang
Atau menjadi prajurit di garda terdepan
Berjaga untuk menghadapi segala rencana Tuhan

___

Aku pernah nyaris bunuh diri, sayang
Membiarkanmu bercerita tentang semua suka yang kau torehkan pada langit di belahan bumi lain, dan membiarkanmu bersandar dengan kapal yang nyaris karam
Aku seperti mayat berjalan, sayang
Tanpa ruh aku kosong berjalan hadapi realitas, menerima fakta bahwa kisah ini lebih nanar dari opera sabun yang biasa kita tonton bersama

___

Dan sekarang, aku disini
Masih di titik yang sama; tak berpindah, tak juga gentar
Menyusun kepingan yang tersisa,
Untuk aku simpan bahagianya,
dan buang lukanya

___

Realitas

Jika berkata siapa yang lebih lelah disini, itu aku. Harus hidup untuk menerima bahwa semua tidak akan pernah sama lagi. Menerima bahwa semua tidak akan pernah baik-baik saja.

Kamu hadir dengan pilihan, aku hadir untuk mengikhlaskan. Ia hadir untuk memilih cinta, aku hadir untuk menerima realitas.

Hidup dengan kecewa lebih sulit ditempuh daripada hidup dalam keputusan atas langkah yang kamu ambil.

Egoisnya, kamu sudah mempersiapkan itu semua. Tidak dengan aku.

Drama sempurna yang kalian lakukan buatku tidak pernah bertanya apapun.

Dan ini, jauh dari sekedar drama.

Mendekatkan Yang Jauh; Menjauhkan Yang Dekat


Pertemanan itu memang seperti uang;
Mudah dicari, namun sulit dijaga.

Unik memang hidup ini,

Mereka yang biasanya dekat, lama-kelamaan menjauh
Mereka yang biasanya jauh, tahu-tahu mengirimkan surat undangan pernikahan; berharap ku datang dan memberi pengharapan bagi ikatan suci mereka

Mereka yang dahulu bermalam-malam menginap dan berbagi cerita, dari urusan pendidikan sampai urusan selangkangan, kami saling tahu
Saat ini sedang bahagia dengan dunia baru (atau dunia lamanya yang selama ini tak aku ketahui?)

Mereka yang hanya sekedar tegur sapa memanggil nama di sekolah, tetiba menghubungi untuk mencurahkan kisah dosen pembimbingnya yang tak kunjung memeriksa hasil karyanya,
Atau menceritakan kebahagiaan mereka yang juara satu dalam lomba lari puluhan kilometer mendaki gunung.

Mereka yang dulu tak terlihat, saat ini menjadi sahabat
Mereka yang dulu dibanggakan, saat ini hanya jadi kenangan

Entah mereka yang pergi,
Mereka yang enggan mengenaliku,
atau Aku yang menjaga jarak dari mereka?

Mungkin benar,
Sebaiknya persahabatan adalah yang tidak terlalu jauh, namun tidak terlalu dekat

Mencurahkan kisah tanpa perlu membeberkan segala rahasia yang tak perlu diketahui,
Berbagi suka duka tanpa perlu lama bersandar pada mereka

Sebaiknya ku atasi semua masalah ini sendiri,


Atau memang harusnya aku yang atasi semua ini?





Jatinangor, 06/04/16
dramaksara

Cangkir-Cangkir Terlewat

Dua cangkir sudah terlewat
Dan ia tak kunjung datang..

Dua cangkir kopi hitam tanpa gula yang ku campur dengan rasa ragu; akankah kamu hadir atau malah bersembunyi dari rasa ingin tahu ku

Tetap tak ada sosokmu

Dua cangkir kopi hitam yang ku seduh dengan air panas pun ternyata tak lebih panas dari otak dan mataku yang selalu menarimu di sudut-sudut ruang.

Terpikir, apakah kau muncul dari atas? Dari langit-langit ruang berukuran tiga kali tiga ini, atau kau dapat menembus tembok seketika dan mengejutkanku dengan segala jawab

Yang dapat menggerakkan jariku untuk menulis segala tentangmu?

Cangkir pertama kopi hitam ku teguk perlahan, sembari menunggu dengan santai kehadiranmu
Hingga cangkir kedua ku teguk dengan tergesa, berharap kau segera hadir dan mengejutkanku

Ah, ternyata menunggumu datang malah hanya menyiksa lambung dan pikiranku yang selalu mencari kabarmu

Mungkin memang sudah seharusnya kau tak datang siang ini.
Mungkin malam nanti?
Saat aku beranjak tidur
Membuatku beranjak dan harus membuka buku harianku
Agar kau tak pergi lagi
Agar ku dapat menjebakmu dalam khayalku
Dan takkan memberikan kesempatan untuk kau pergi lagi,

gerangan, inspirasi.





Jatinangor, Feb 22, 2016
dramaksara

Aku Kembali

Halo!

Salam blogger setia.
Kali ini, aku benar-benar mencoba untuk kembali menulis.

Loh, kenapa masih mau kembali? Blog kan mulai sepi?
Ya gak apa-apa. Pengen aja kembali lagi menulis. Apa yang bisa diceritain bakal muncul di dalam blog ini, sebagai pengisi waktu luang.

Emang kemarin kemana aja, mbak? Sibuk apa, sampe gak kepegang gitu blognya?
Kemarin sempat sibuk ngurus acara kampus, kuliah, dan lain sebagainya. (Baca: biar kelihatan rajin ^^)

Mungkin readers selama ini hanya tau kalo aku sukanya nulis yang galau-galau terus. Cinta-cintaan, dan relatif based on true story.

Tapi cobalah, kita lihat dulu kedepan nanti aku bakal nulis apa aja ya?:))



Salam,
Gaby!

00:20

Mentari masih terlelap

Rembulan harusnya siaga

Namun tak ada bias

Sembunyi ia malu

Dibalut tipis awan malam

Seperti kau yang harusnya ada

Namun enggan terlihat

Dan terus buatku mencari

Setidaknya; semburat senyum bahagia

Kala kita bersama




Yang takkan nampak lagi.

Atau belum?





Tasikmalaya, 22 November 2014

Sengaja: Telan Saja Pahitnya Perlahan-Lahan!

pagi ini kuseduh secangkir kopi hitam pekat dengan dua tetes airmata dan tambahan satu sendok gula


pagi ini, ada bayang saya yang terpantul di secangkir kopi hitam, semua jelas tergambar kecuali, tentu saja, senyum saya


bahkan, jejak cangkir kopimu masih membekas di sini: di atas meja di sudut kedai kopi tempat kita dulu pernah bertemu


mungkin caraku mencintaimu sama seperti campuran dua sendok makan kopi hitam dengan satu sedok teh gula pasir kegemaranku. 
secukupnya, asal pekat. 
asal bibirku dapat mengecupnya setiap pagi, meneguk segala pahit dan menyisakan sejumput manis dari sela-sela bibirku


pahit yang manisnya kusengaja.


ah, sudahlah..
toh, secangkir kopi hitam di hadapanmu saat ini dengan perasaan kehilanganmu di hati saya memiliki banyak kesamaan–





sama-sama tak perlu diucapkan, telan saja pahitnya perlahan-lahan.

Dramaturgi

Ku mainkan peran
Seakan kau masih disini

Ku mainkan peran
Seakan kau masih mencinta

Ku mainkan peran
Seakan kau ada untukku

Ku mainkan peran
Seakan kau merindukanku

Aku tertawa
Aku menangis
Aku tersenyum
Aku menggumam
Aku bahagia
Aku terlena


Kau tak ada.....


Ah, biar saja.
Peran ini masih ku gemari.
Biarkan saja aku tertawa,
Biarkan saja aku bahagia,
dalam asa ku yang masih mengharapmu..

Biarkan saja aku bermain lakon 'tuk diriku sendiri
Biarkan saja




Sampai aku sadar bahwa aku tak sedang bermain peran
Sampai aku sadar bahwa kau tak lagi disini






Sampai aku sadar, bahwa hati ini tak lagi kau singgahi..

Sabda Senja

Mungkin memang sudah saatnya,
Jujurmu menjadi airmataku

Mungkin memang sudah saatnya,
Jenuhmu membunuh cintamu
Mungkin memang sudah saatnya,
Kau tambatkan rindu pada hati yang baru
Hati yang jauh lebih kau cinta
Bukan hati yang mencintamu

***

Semoga saja, kasih
Ada hati yang mampu menyayangmu,
Lebih besar dariku
Sehingga bahagiamu ada bersamanya

Semoga saja, kasih
Ada rindu yang mampu selimutimu,
Lebih hangat dari cintaku
Sehingga lukamu terbalut hangatnya

Semoga saja, kasih
Ada sepasang mata yang lebih meneduhkan
Menatap lekat sepasang matamu yang tak pernah diam
Yang dapat mengikatmu hingga kau tak bisa lepas dari peluknya


Sayangnya, kasih
Aku tak lagi berdaya untukmu

Sayangnya, kasih
Aku tak lagi dapat merengkuhmu

Sayangnya, kasih
Jenuhmu membuang cintamu
Untukku..



Jika kita bertemu lagi, suatu hari nanti
Ingatlah akan cinta yang selalu ku curahkan padamu
Ingatlah aku akan kita yang dahulu menanam rindu, hingga buahnya dapat kita petik bersama
Ingatlah akan aku
Yang pernah menghangatkan malammu
Yang pernah beradu pendapat dan melepas haru bersama



Ingatlah aku,
Yang pernah mengisi relung hatimu
Meski haya sebentar..

Untukmu:

Untukmu:
Back to Top