Menjadi Pemenang

Aku ingin jadi pemenang,
dalam setiap jalan hidupmu

Menjadi pemenang dalam setiap pagi
Menghindari mentari, merengkuh diri ini

Aku ingin jadi pemenang,
dalam setiap jalan hidupmu

Menjadi koki handal yang menyiapkan sarapan
Hanya telur dan susu hangat, sederhana namun berkesan

Membersihkan langit-langit rumah
Menertawai wajah penuh peluh
Sambil sesekali mengadu kecup

Aku ingin jadi pemenang,
dalam setiap jalan hidupmu

Bersandar di kursi malas
di pangkuanku yang mulai berlemak
menyusun rencana yang siap kita tempuh
atau sekedar mengeluh, memilih mandi dengan air panas atau dingin

Aku ingin jadi pemenang,
dalam setiap jalan hidupmu

Yang tak pernah ada di belakangmu
Namun selalu ada di sampingmu
Berselisih paham, namun masih bertaut
Bersitegang, namun saling merajut
Menggigit pundakmu, kemudian memijit

Aku ingin jadi pemenang,
dalam setiap jalan hidupmu

Yang kau peluk pertama saat kemenangan kita datang,
dan kau peluk pertama saat kesedihan kita datang

Aku ingin jadi pemenang,
dalam setiap jalan hidupmu

Jika aku hanya bermimpi,
cukupkan aku menangkanmu dalam khayalku

Tapi jika itu nyata,
Aku yakin kau kan selalu ada
Memenangkanku..



11/12/17
-G-

Memilih Dipilih

Apa ini?
Aku benar-benar tidak tahu.

Merasa bodoh akan cinta, namun aku selalu lupa bahwa jatuh cinta tak selalu bahagia. Ada kata jatuh'yang harus dirasa, sebelum cinta terwujud tiba.

Aku lupa rasanya jatuh, dan ketika itu tiba, tak ada yang mampu menangkapku.

Bablas.

Paru-paru ini rasanya cukup lelah untuk mengembuskan napas berulang kali, hanya untuk menenangkan diri dari rasa yang berkecamuk dalam diri.

Tak adakah jiwa yang mampu menerima kekurangan dengan lapang dada?
Haruskah mendua menjadi ajang kompetisi adu kekuatan?

Aku diam. Aku tahu langkah ini hanya memberatkan. Aku tahu, langkah ini akan dianggap bodoh semua orang. Pilihan sudah diputuskan. Lalu masihkah kita akan tetap diam? Diam atau bersuara? Bersuara untuk apa? Diam untuk apa?


Semuanya kembali menjadi pilihan.

Jeda, kau butuh itu?

Sementara waktu kita sudah penuh dengan jeda. Jika tak ada jeda, tak mampulah aku merangkai frasa menjadi aksara yang tersusun lagi-lagi hanya untuk anda.

Aku ingin marah, untuk apa? Untuk pilihan yang sudah ku ambil dalam menunggumu menentukan pilihan?
Aku ingin menangis, untuk apa? Untuk kebodohanku menunggu ragu dalam sendu?
Aku ingin teriak, untuk apa? Untuk memaki aku yang tak kunjung meninggalkan?

Entahlah, aku tak tahu..
Yang ku tahu, cinta yang menguatkan
Entah siapa menguatkan siapa..

Aku dibunuh waktu,
Bukan cintaku yang akan mati,
tapi aku yang mati karena menanti..



Dia yang tak bisa memilih, aku yang terlena dalam pilihan!

11/12/17
-G-

Prasangka dan Dua Tangan Penutup Telinga

Kepadamu, yang hingga saat ini masih ku panggil kawan,

Aku tidak tahu apa yang menggerakkan jari saya untuk menulis ini untukmu, namun saya yakin saya harus menjelaskan ini padamu, walaupun akan sia-sia, dan kau pun tak akan membaca isi buku harianku ini :))

Betul, patah hati mengajarkan saya banyak hal, tentang cinta yang belum tuntas, rasa yang terlampau sempurna tanpa cacat, yang justru malah melukai satu sama lain.


Patah hati kali ini mengajarkan saya bahwa tak selamanya bisa mengharap kepada sesama manusia. Patah hati meninggalkan lebih banyak rasa dibanding jatuh cinta.

Ketika saya patah hati, saya merasa semesta seakan mengejek diriku. Hal-hal yang biasa saya lakukan jadi terasa menyakitkan. Begitu tidak enaknya berusaha tegar, seperti saat sedang menulis cerita ini, saya selalu terbayang-bayang akan kisah cinta kalian yang tak kunjung selesai, hingga pada akhirnya harus melukai tiga hati dalam satu waktu. Patah hati mampu membuat saya menangis tersedu bahkan saat melihat kue kesukaannya ada di etalase minimarket. Patah hati, mampu membuatku segila ini.

Dalam patah hati, saya selalu merasa sendiri. Tidak ada yang mampu saya ujarkan kepada siapapun, karena saya malu. Saya pun tak lagi mempercayai kawan sebagai 'orang-ketiga-serba-tahu' dalam hubungan ini.

Kawan, kau selalu tahu awal mula hubungan ini. Saat sata mengetuk pintu dan duduk di kursi tamu hatinya. Kau selalu memberi tahu, menjadi sosok tempatku berbagi suka dan luka. Kau, selalu bisa menjadi penenang saat semesta meyakinkanku bahwa semua ini hanya ketakutanku saja.

Namun pada akhirnya, kau memenangkannya. Saya tak lagi bisa mendengar cerita tentang kecerobohannya menaruh kunci motor ataupun lari dari pasang mata dosen pembimbing. Kau selalu bisa memenangkan hatinya dengan menikmati seduhan kopi di kedai kecil tempat ia utarakan niatnya untuk memenuhi mimpi saya dan dirinya.

Saya dihadapkan oleh dua pilihan, saat saya mengetahui ini semua: beranjak pergi, atau menata kembali. Saya pilih yang kedua, dan saya sudah yakinkan untuk tidak menyesali keputusan ini di lain waktu.

Marah kepadamu? Sungguh tidak, kawan. Saya berterima kasih kepada Semesta yang masih saja berbaik pada saya untuk selalu berbenah diri.

Bahkan, saat momentum bahagia dalam hidup kau, saya persilahkan Semesta untuk memberikan kesan terbaik kepada kawan terbaik yang dimilikinya. Meskipun kesan yang kau tunjukkan sangat datar, semoga engkau benar-benar mengerti maksudku.

Tapi, satu hal yang menjadi pikiran:

Kenapa, begitu banyak pasang mata yang malah melihat saya aneh?
Pasang mata yang menelanjangi, bahkan mengintimidasi atas pilihan yang telah diputuskan.
Saya risih, seolah saya yang merusak hubungan persahabatan ini.

Mereka anggap saya yang tamak, sehingga kau harus angkat kaki dan lari yang jauh.

Saya jengah, kawan..
Tapi saya tak bisa apa-apa

Bahkan dua tangan yang biasa saya gunakan tak lagi mempan meredam bising kisah legendaris kalian!



13/11/17
Tolong aku,
- G -

Ajari Aku

Ajari aku mengampuni luka dengan menimbun suka
Melupa luka dengan tak membenci kenang
Atau menjadi prajurit di garda terdepan
Berjaga untuk menghadapi segala rencana Tuhan

___

Aku pernah nyaris bunuh diri, sayang
Membiarkanmu bercerita tentang semua suka yang kau torehkan pada langit di belahan bumi lain, dan membiarkanmu bersandar dengan kapal yang nyaris karam
Aku seperti mayat berjalan, sayang
Tanpa ruh aku kosong berjalan hadapi realitas, menerima fakta bahwa kisah ini lebih nanar dari opera sabun yang biasa kita tonton bersama

___

Dan sekarang, aku disini
Masih di titik yang sama; tak berpindah, tak juga gentar
Menyusun kepingan yang tersisa,
Untuk aku simpan bahagianya,
dan buang lukanya

___

Realitas

Jika berkata siapa yang lebih lelah disini, itu aku. Harus hidup untuk menerima bahwa semua tidak akan pernah sama lagi. Menerima bahwa semua tidak akan pernah baik-baik saja.

Kamu hadir dengan pilihan, aku hadir untuk mengikhlaskan. Ia hadir untuk memilih cinta, aku hadir untuk menerima realitas.

Hidup dengan kecewa lebih sulit ditempuh daripada hidup dalam keputusan atas langkah yang kamu ambil.

Egoisnya, kamu sudah mempersiapkan itu semua. Tidak dengan aku.

Drama sempurna yang kalian lakukan buatku tidak pernah bertanya apapun.

Dan ini, jauh dari sekedar drama.

Mendekatkan Yang Jauh; Menjauhkan Yang Dekat


Pertemanan itu memang seperti uang;
Mudah dicari, namun sulit dijaga.

Unik memang hidup ini,

Mereka yang biasanya dekat, lama-kelamaan menjauh
Mereka yang biasanya jauh, tahu-tahu mengirimkan surat undangan pernikahan; berharap ku datang dan memberi pengharapan bagi ikatan suci mereka

Mereka yang dahulu bermalam-malam menginap dan berbagi cerita, dari urusan pendidikan sampai urusan selangkangan, kami saling tahu
Saat ini sedang bahagia dengan dunia baru (atau dunia lamanya yang selama ini tak aku ketahui?)

Mereka yang hanya sekedar tegur sapa memanggil nama di sekolah, tetiba menghubungi untuk mencurahkan kisah dosen pembimbingnya yang tak kunjung memeriksa hasil karyanya,
Atau menceritakan kebahagiaan mereka yang juara satu dalam lomba lari puluhan kilometer mendaki gunung.

Mereka yang dulu tak terlihat, saat ini menjadi sahabat
Mereka yang dulu dibanggakan, saat ini hanya jadi kenangan

Entah mereka yang pergi,
Mereka yang enggan mengenaliku,
atau Aku yang menjaga jarak dari mereka?

Mungkin benar,
Sebaiknya persahabatan adalah yang tidak terlalu jauh, namun tidak terlalu dekat

Mencurahkan kisah tanpa perlu membeberkan segala rahasia yang tak perlu diketahui,
Berbagi suka duka tanpa perlu lama bersandar pada mereka

Sebaiknya ku atasi semua masalah ini sendiri,


Atau memang harusnya aku yang atasi semua ini?





Jatinangor, 06/04/16
dramaksara

Cangkir-Cangkir Terlewat

Dua cangkir sudah terlewat
Dan ia tak kunjung datang..

Dua cangkir kopi hitam tanpa gula yang ku campur dengan rasa ragu; akankah kamu hadir atau malah bersembunyi dari rasa ingin tahu ku

Tetap tak ada sosokmu

Dua cangkir kopi hitam yang ku seduh dengan air panas pun ternyata tak lebih panas dari otak dan mataku yang selalu menarimu di sudut-sudut ruang.

Terpikir, apakah kau muncul dari atas? Dari langit-langit ruang berukuran tiga kali tiga ini, atau kau dapat menembus tembok seketika dan mengejutkanku dengan segala jawab

Yang dapat menggerakkan jariku untuk menulis segala tentangmu?

Cangkir pertama kopi hitam ku teguk perlahan, sembari menunggu dengan santai kehadiranmu
Hingga cangkir kedua ku teguk dengan tergesa, berharap kau segera hadir dan mengejutkanku

Ah, ternyata menunggumu datang malah hanya menyiksa lambung dan pikiranku yang selalu mencari kabarmu

Mungkin memang sudah seharusnya kau tak datang siang ini.
Mungkin malam nanti?
Saat aku beranjak tidur
Membuatku beranjak dan harus membuka buku harianku
Agar kau tak pergi lagi
Agar ku dapat menjebakmu dalam khayalku
Dan takkan memberikan kesempatan untuk kau pergi lagi,

gerangan, inspirasi.





Jatinangor, Feb 22, 2016
dramaksara

Aku Kembali

Halo!

Salam blogger setia.
Kali ini, aku benar-benar mencoba untuk kembali menulis.

Loh, kenapa masih mau kembali? Blog kan mulai sepi?
Ya gak apa-apa. Pengen aja kembali lagi menulis. Apa yang bisa diceritain bakal muncul di dalam blog ini, sebagai pengisi waktu luang.

Emang kemarin kemana aja, mbak? Sibuk apa, sampe gak kepegang gitu blognya?
Kemarin sempat sibuk ngurus acara kampus, kuliah, dan lain sebagainya. (Baca: biar kelihatan rajin ^^)

Mungkin readers selama ini hanya tau kalo aku sukanya nulis yang galau-galau terus. Cinta-cintaan, dan relatif based on true story.

Tapi cobalah, kita lihat dulu kedepan nanti aku bakal nulis apa aja ya?:))



Salam,
Gaby!

00:20

Mentari masih terlelap

Rembulan harusnya siaga

Namun tak ada bias

Sembunyi ia malu

Dibalut tipis awan malam

Seperti kau yang harusnya ada

Namun enggan terlihat

Dan terus buatku mencari

Setidaknya; semburat senyum bahagia

Kala kita bersama




Yang takkan nampak lagi.

Atau belum?





Tasikmalaya, 22 November 2014

Sengaja: Telan Saja Pahitnya Perlahan-Lahan!

pagi ini kuseduh secangkir kopi hitam pekat dengan dua tetes airmata dan tambahan satu sendok gula


pagi ini, ada bayang saya yang terpantul di secangkir kopi hitam, semua jelas tergambar kecuali, tentu saja, senyum saya


bahkan, jejak cangkir kopimu masih membekas di sini: di atas meja di sudut kedai kopi tempat kita dulu pernah bertemu


mungkin caraku mencintaimu sama seperti campuran dua sendok makan kopi hitam dengan satu sedok teh gula pasir kegemaranku. 
secukupnya, asal pekat. 
asal bibirku dapat mengecupnya setiap pagi, meneguk segala pahit dan menyisakan sejumput manis dari sela-sela bibirku


pahit yang manisnya kusengaja.


ah, sudahlah..
toh, secangkir kopi hitam di hadapanmu saat ini dengan perasaan kehilanganmu di hati saya memiliki banyak kesamaan–





sama-sama tak perlu diucapkan, telan saja pahitnya perlahan-lahan.

Untukmu:

Untukmu:
Back to Top