Jam tiga dini hari
Kita terpaut dalam sebuah selimut
Bukan untuk bertemu peluh
Namun untuk mengasihani hidup satu sama lain
Antologi kata; Analogi rasa; Jemari bersabda.
Jam tiga dini hari
Kita terpaut dalam sebuah selimut
Bukan untuk bertemu peluh
Namun untuk mengasihani hidup satu sama lain
Aku ingin jadi pemenang,
dalam setiap jalan hidupmu
Menjadi pemenang dalam setiap pagi
Menghindari mentari, merengkuh diri ini
Aku ingin jadi pemenang,
dalam setiap jalan hidupmu
Menjadi koki handal yang menyiapkan sarapan
Hanya telur dan susu hangat, sederhana namun berkesan
Membersihkan langit-langit rumah
Menertawai wajah penuh peluh
Sambil sesekali mengadu kecup
Aku ingin jadi pemenang,
dalam setiap jalan hidupmu
Bersandar di kursi malas
di pangkuanku yang mulai berlemak
menyusun rencana yang siap kita tempuh
atau sekedar mengeluh, memilih mandi dengan air panas atau dingin
Aku ingin jadi pemenang,
dalam setiap jalan hidupmu
Yang tak pernah ada di belakangmu
Namun selalu ada di sampingmu
Berselisih paham, namun masih bertaut
Bersitegang, namun saling merajut
Menggigit pundakmu, kemudian memijit
Aku ingin jadi pemenang,
dalam setiap jalan hidupmu
Yang kau peluk pertama saat kemenangan kita datang,
dan kau peluk pertama saat kesedihan kita datang
Aku ingin jadi pemenang,
dalam setiap jalan hidupmu
Jika aku hanya bermimpi,
cukupkan aku menangkanmu dalam khayalku
Tapi jika itu nyata,
Aku yakin kau kan selalu ada
Memenangkanku..
Apa ini?
Aku benar-benar tidak tahu.
Merasa bodoh akan cinta, namun aku selalu lupa bahwa jatuh cinta tak selalu bahagia. Ada kata jatuh'yang harus dirasa, sebelum cinta terwujud tiba.
Aku lupa rasanya jatuh, dan ketika itu tiba, tak ada yang mampu menangkapku.
Bablas.
Paru-paru ini rasanya cukup lelah untuk mengembuskan napas berulang kali, hanya untuk menenangkan diri dari rasa yang berkecamuk dalam diri.
Tak adakah jiwa yang mampu menerima kekurangan dengan lapang dada?
Haruskah mendua menjadi ajang kompetisi adu kekuatan?
Aku diam. Aku tahu langkah ini hanya memberatkan. Aku tahu, langkah ini akan dianggap bodoh semua orang. Pilihan sudah diputuskan. Lalu masihkah kita akan tetap diam? Diam atau bersuara? Bersuara untuk apa? Diam untuk apa?
Kepadamu, yang hingga saat ini masih ku panggil kawan,
Aku tidak tahu apa yang menggerakkan jari saya untuk menulis ini untukmu, namun saya yakin saya harus menjelaskan ini padamu, walaupun akan sia-sia, dan kau pun tak akan membaca isi buku harianku ini :))
Betul, patah hati mengajarkan saya banyak hal, tentang cinta yang belum tuntas, rasa yang terlampau sempurna tanpa cacat, yang justru malah melukai satu sama lain.
Ajari aku mengampuni luka dengan menimbun suka
Melupa luka dengan tak membenci kenang
Atau menjadi prajurit di garda terdepan
Berjaga untuk menghadapi segala rencana Tuhan
___
Aku pernah nyaris bunuh diri, sayang
Membiarkanmu bercerita tentang semua suka yang kau torehkan pada langit di belahan bumi lain, dan membiarkanmu bersandar dengan kapal yang nyaris karam
Aku seperti mayat berjalan, sayang
Tanpa ruh aku kosong berjalan hadapi realitas, menerima fakta bahwa kisah ini lebih nanar dari opera sabun yang biasa kita tonton bersama
___
Dan sekarang, aku disini
Masih di titik yang sama; tak berpindah, tak juga gentar
Menyusun kepingan yang tersisa,
Untuk aku simpan bahagianya,
dan buang lukanya
___
Jika berkata siapa yang lebih lelah disini, itu aku. Harus hidup untuk menerima bahwa semua tidak akan pernah sama lagi. Menerima bahwa semua tidak akan pernah baik-baik saja.
Kamu hadir dengan pilihan, aku hadir untuk mengikhlaskan. Ia hadir untuk memilih cinta, aku hadir untuk menerima realitas.
Hidup dengan kecewa lebih sulit ditempuh daripada hidup dalam keputusan atas langkah yang kamu ambil.
Egoisnya, kamu sudah mempersiapkan itu semua. Tidak dengan aku.
Drama sempurna yang kalian lakukan buatku tidak pernah bertanya apapun.
Dan ini, jauh dari sekedar drama.
Pertemanan itu memang seperti uang;
Mudah dicari, namun sulit dijaga.
Dua cangkir sudah terlewat
Dan ia tak kunjung datang..
Dua cangkir kopi hitam tanpa gula yang ku campur dengan rasa ragu; akankah kamu hadir atau malah bersembunyi dari rasa ingin tahu ku
Tetap tak ada sosokmu
Dua cangkir kopi hitam yang ku seduh dengan air panas pun ternyata tak lebih panas dari otak dan mataku yang selalu menarimu di sudut-sudut ruang.
Terpikir, apakah kau muncul dari atas? Dari langit-langit ruang berukuran tiga kali tiga ini, atau kau dapat menembus tembok seketika dan mengejutkanku dengan segala jawab
Yang dapat menggerakkan jariku untuk menulis segala tentangmu?
Cangkir pertama kopi hitam ku teguk perlahan, sembari menunggu dengan santai kehadiranmu
Hingga cangkir kedua ku teguk dengan tergesa, berharap kau segera hadir dan mengejutkanku
Ah, ternyata menunggumu datang malah hanya menyiksa lambung dan pikiranku yang selalu mencari kabarmu
Mungkin memang sudah seharusnya kau tak datang siang ini.
Mungkin malam nanti?
Saat aku beranjak tidur
Membuatku beranjak dan harus membuka buku harianku
Agar kau tak pergi lagi
Agar ku dapat menjebakmu dalam khayalku
Dan takkan memberikan kesempatan untuk kau pergi lagi,
gerangan, inspirasi.
Halo!
Salam blogger setia.
Kali ini, aku benar-benar mencoba untuk kembali menulis.
Loh, kenapa masih mau kembali? Blog kan mulai sepi?
Ya gak apa-apa. Pengen aja kembali lagi menulis. Apa yang bisa diceritain bakal muncul di dalam blog ini, sebagai pengisi waktu luang.
Emang kemarin kemana aja, mbak? Sibuk apa, sampe gak kepegang gitu blognya?
Kemarin sempat sibuk ngurus acara kampus, kuliah, dan lain sebagainya. (Baca: biar kelihatan rajin ^^)
Mungkin readers selama ini hanya tau kalo aku sukanya nulis yang galau-galau terus. Cinta-cintaan, dan relatif based on true story.
Tapi cobalah, kita lihat dulu kedepan nanti aku bakal nulis apa aja ya?:))
Salam,
Gaby!