a letter for my (imagine) father ..

Kebimbangan ini bagai lingkaran yang mengurung diriku begitu rupa, bagaimana aku bisa menjelaskan ini semua kepadamu , Pak? Mataku Cuma bisa basah, rupanya hanya dengan cara ini aku bisa merasakan kerinduanku. Pada jarak kita yang sangat jauh, juga dalam rentang waktu yang panjang, masih juga kurindui engkau. Banyak sesalku yang takkan bisa tersampaikan padamu, disaat kau tak ada, aku baru merasai sepinya kesendirian ini.

__________________________________________________________________________________


Mungkin aku adalah anakmu yang selalu membuat hatimu kesal ?(jemariku terhenti menggerakkan pena). Air tidak hanya menetes di mataku tapi juga menyumbat deras pernafasanku, pedih ini lebih dari yang kuduga. Lalu gambaran ketika kau ada berseliweran saling tubruk di kepalaku. Aku ingin menguraikannya satu persatu agar kenangan kita dahulu dapat menjawab rindu ini yang sangat begitu sepi. Aku ingin pedih ini merobek-robek setiap keangkuhan yang aku punyai, lalu aku cuma selembar jiwa yang telungkup di pangkuanmu (suatu kemustahilan, kau telah jauh. Pun ketika kau dekat, aku tak pernah begitu).

Bapak, aku merasa kau ada di dekatku sekarang, tidak dengan sapu lidi dalam genggamanmu yang bisa membuat betisku merah, tapi kau letakkan tanganmu yang lemah di pangkuanku, juga menemaniku menulis surat ini, menuntun hatiku untuk bisa menjadi hangat bersamamu. Tahukah engkau,Bapak, aku ingin berada di pelukmu sebentar saja, tapi tidak dengan baju kebesaranmu dangan tanda jasa dan hiasan bintang di pundakmu. Semua itu membuatku selalu takut, juga untuk menatap matamu, apalagi berlindung di dadamu karena yang kutangkap hanya debur jantung yang selalu siap meledakkan amarah. Namaun sepanjang kita bersama, aku tidak pernah mengimpikan orang lain untuk menjadi bapakku. Kau tetap bapakku, yang telah memberikan rasa tentram sekaligus rasa takut.

Selama kita bersama aku belum pernah begitu berupaya untuk membuat hatimu bahagia, juara kelasku pada tiap jenjang pendidikan bukan untuk kupersembahkan kepadmu, pun begitu dengan prestasiku yang lain bukan untuk membuatmu bangga. Ah Bapak, jika itu untukmu maka kau akan merasa benar bahwa kekerasanmu membuahkan hasil. Semua yang kuraih untuk diriku sendiri, aku begitu keras hati sebab itupun aku tidak arus merasa sedih saat tak satupun pujian kau lontarkan untukku.

Banyak hal yang tidak pernah kuungkapkan kepadamu. Kau bisa luar biasa marah ketika itu bahkan akan mengusirku dari rumah. Tak layak tentu aku menjadi anakmu. Lalu aku akan tinggal di jalanan atau membiarkanku berlimpahan kenistaan sekalian.

Betapa jahatnya aku.Rahasia nista ini aku simpan darimu hanya karena aku takut berhadapan dengan kemarahanmu, bukan karena aku telah melukai hatimu. Ah bapak, terima sungkem dari anakmu ini. Aku menikam berulang-ulang hatiku sendiri sampai kini, bukan kau yang melakukannya, tapu diriku sendiri, meski cuma kekuatan menusukkan belati yang aku miliki yang tertinggal di sisa tenagaku.

Cinta di usia belia bagaikan kobaran api yang menghangsukan tempatnya tumbuh. Laki-laki yang kurelakan menyimpan benihnya di rahimku, juga kurelakan pergi meninggalkan aku. Hanya Ibu yang menangis, dengan tatapan penuh rasa luka dan marah. Anak bungsunya menggugurkan kehamilan yang didapat dari hubungan di luar nikah. Aku Cuma bisa memohon pada ibu untuk tidak mengatakan apapun padamu. Jangan menyalahkan ibu untuk rahasia nista ini. Ibu hanya tidak mau membuat dirimu terluka dan ia menanggungkannya sendirian. Aku telah melukai hati , Ibu, menyakiti hati perempuan yang kau cintai sepenuh jiwa sepanjang hidupmu, maka terimalah ampunku untuk itu.
Masih jelas tergambar ketika itu, kau tetap saja menunjukkan dirimu sebagai bapak yang perkasa dan tegar, meski kau tergolek di atas ranjang yang dikelilingin dengan alat pencuci darah. Suara mesin itu, Pak, memekakakkan telinga dan jantungku bersamaan, membuatku menangis tanpa suara dan air mata. Aku cuma berdiri di sisimu dan tidak juga kau raih jemariku yang menanti penuh harap untuk kau genggam. Betapa ingin kudengar kau katakana sakitmu padaku dengan demikian aku merasa berarti aku menjadi anakmu. Berbagilah, meski tak kurasakan sayatan di perutmu, untuk merelakan darah itu mengalir hilir mudik keluar masuk mesin untuk dicuci.

Di sepanjang tahun sakitmu, kau tetap saja Bapakku dengan wajah dan watak yang keras, melunaklah sedikit seperti organ tubuhmu yang telah aus. Luka di hatiku karena cinta yang kuyakini membuatku mekin terengah meraih – raih hangat dekapan kelembutan cinta seorang Bapak. Aku sepenuhnya yakin, bahwa hanya kau yang mampu mengobatiku.
Bapak, berapa kali aku tidak dapat menahan marahku kepadamu. Dan kau hanya terduduk lesu tanpa ekspresi sambil membiarkan ujung-ujung jarimu yang berdarah. Kau siksa aku terus menerus dengan sakitmu, kau biarkan tanganmu yang telah lumpuh sebelah itu berusaha menggunting kukumu di jemari yang lain karena telah panjang sebagian. Sementara kau biarkan aku tertawa lepas menikmati tontonan menarik di layar televisi di seberang kamarmu. Kenapa tidak juga kau memintaku untuk melakukannya? Mintalah bantuanku, Pak. Tidakkah kau anggap aku ada di sebelahmu?

Juga ketika kau roboh di balik pintu ruang tempat satu-satunya dimana kau habiskan keyidakberdayaanmu, bahkan memanggil namaku pun tidak, kau bersusah payah memapah tubuhmu untuk berdiri, sekali lagi kudapati kau tanpa ekspresi terduduk di lantai bersimpuh dengan kain sarungmu. Ya Tuhan, mengapa kau begitu sombong? Memakai sarungpun kau sudah tidak bisa, mintalah aku melakukannya untukmu. Aku hanya bisa berteriak-teriak, meyakinkanmu bahwa aku selalu ada di sisimu, membantumu dengan ketulusan dan cintaku. Tetapi kau, sekali lagi tidak pernah memperhitungkan aku. Kau hanya menatapku tak berkedip tanpa berkata apapun, namun berjuta makna terbaca di sana. Tentang amarah yang terpendam, tentang rindu yang terbenam, tentang asa yang tenggelam. Ah, matamu tegas menikam kepedihanku, kuat sekali.

Akulah satu-satunya anakmu yang masih tinggal pada atap yang sama. Aku akan menjagamu ketika ibu berangkat ke tanah suci disaat penyakitmu datang. Mengeluhlah kepadaku, Pak. Merataplah kepadaku akan sakitmu. Demi Tuhan, dingin gigil ruang yang berjarak pada diri kita tak akan mampu meluluh leburkan benih kasih sayangku kepadamu. Jangan biarkan aku menjadi orang asing di hadapanmu.

Aku adalah pewaris sikap dan watak kerasmu di antara saudara-saudaraku. Sehingga di antara kita selalu saja ada percikan api yang menggeremang. Suara-suara lantang yang bertabrakan dan memantul-mantul di setiap ruang saat kita berselisih paham. Ketika kecil aku hanya menangis menerima sentilan keras yang menciptakan merah ungu di telingaku. Juga cubitan jemarimu yang gempal di pahaku nan membiru. Segala hal berbeda ketika aku bertambah besar, setinggi tubuhmu, kuperlihatkan ketidaksukaanku, mempertentangkan habis-habisan segala peraturanmu. Aku belajar menentangmu, Pak. Namun aku mencintaimu sangat. Andai engkau tahu itu………

Kau selalu menyebutku pembangkang, bahkan semua saudara dan ibu memberiku predikat demikian. Mungkin semua itu benar, namun bukan berarti aku tak pernah mengasihi dirimu, tempat dimana segala energi pemberontakanku terpusat.

Bapak, ingatkah? Saat itu seorang laki-laki yang begitu dekat dan hangat datang di tengah kita dan kemudian memintaku untuk menjadi istrinya. Dia datang kepadamu menawarkan cinta dan ketulusan untukku, anakmu, yang sampai usia ke dua puluh enamnya selalu saja patah hati, tersakiti berulang kali. Kau selalu saja pergoki aku menangis sendirian d kamar setiap kali laki-laki telah menyakitiku, untuk menangispun aku harus bersembunyi. Aku tidak ingin nampak lemah di hadapanmu.

Aku hampir tidak percaya ketika kau setuju dengan laki-laki itu. Bagaimana mungkin aku menikah dengannya secepat itu? Kau tahu aku baru saja patah cinta dengan seseorang yang lain. Apa yang ia tawarkan kepadamu , Pak? Tidak harta, tidak kaya. Ia hanya seorang laki-laki yang sederhana, tapi memang ia menawarkan cintanya yang tampak begitu besar di matamu. Bagimu ia laki-laki yang tepat untuk menjaga dan mencintaiku. Dan laki-laki itu benar-benar tidak dapat menutupi keinginannya saat menatapku, bahwa sesungguhnya ia demikian berhasrat. Aku peka, aku perempuan yang bisa membaca karena terbiasa terlanda. Tatapannya mengingatkanku pada sorot mata laki-laki di masa laluku yang tak pernah kau tahu.

Akhirnya aku berusaha membina dan belajar mencintainya, namun tidak dapat lagi aku teruskan. Aku menentang pernikahan ini, telah kupersiapkan dengan matang rencana kepergianku dari rumah. Ketika seluruh saudara dan ibu tidak dapat membendung kekerasan hatiku lagi untuk pergi dari rumah dan beranjak dari kehidupan kalian, kau datang menghampiriku di kamar dengan tergopoh-gopoh susah payah berjalan karena stroke yang melumpuhkan separuh badanmu.

Kau, seorang Bapak yang demikian ku kenal, yang selalu berbicara dengan suara lantang dan tegas, yang tiap kali menggeletarkan ruangan di mana kita berselisih, kini terengah menyeret dengan kekuatan sebelah tubuhmu untuk memintaku agar tetap tinggal dan menikah dengan laki-laki itu. Matamu basah, Pak. Itulah air mata pertama yang kau deraikan untukku. Aku belum pernah melihatmu menangis………

Suaramu tak lagi garang, tatapanmu tak lagi menikam, dengan kata-kata yang sulit kau ucapkan karena lidahmu yang telah kelu sebelah, kau memohon padaku untuk tidak pergi, untuk membahagiakanmu, untuk menikahi laki-laki itu sebelum kau bertemu ajalmu. Tak sanggup lagi kudengar suaramu yang terbata dan tidak jelas, kita berpelukan dengan haus dan air mataku yang tumpah ruah di dadamu, betapa kuinginkan dekap hangat seperti ini sejak dulu. Maka Bapak, cintaku padamu yang terpendam berhamburan ke permukaan hatiku, meluluhlah keras hati kita. Aku akan membayar mahal dengan mengabulkan permintaanmu.
Apalah artinya kemudian segala yang harus kutunaikan dibanding hangat hatiku berada di pelukmu, mendengarmu pintamu untuk dibahagiakan. Aku menjadi demikian berarti bagimu. Kepatuhan terbesarku ini akan ku persembahkan padamu, tanpa perasaan terhina, terluka, menekan amarah, namun karena rasa cintaku yang terlampau besar padamu.

Sekian tahun telah kulampaui sesudahnya, dan bisakah kau menerima hal ini sebagai hal terbaik yang mesti kini kutempuhi? Bukan berarti aku tidak bisa memegang janjiku padamu. Namun percayalah kali ini dengan segala kerendahan hatiku , aku bersimpuh di ujung kakimu, bahwa perpisahanku dengan laki-laki pilihanmu adalah jalan kehidupanku yang terbaik juga bagi kedua belah jiwaku, cucu-cucumu. Bukankah hidup hanya sederetan pilihan yang mesti di tempuhi? Dan langkah ini yang harus kupilih dengan segala resiko yang mesti kuhadapi di sepanjang jalannya. Jangan bersedih, bapak. Karena meski aku menangis namun aku sedang menyenangkan diriku sendiri, dalam tangis ini, bukankah dengan ini kita akan selalu merasa bersama serentang apapun jarak di antara kita? Kapan lagi aku bisa menikmati kepedihan ini dengan penuh rasa bahagia.

Namun sampai detik ini masih saja kusemayamkan rinduku dengan sederet rasa sesal yang saling berkejaran, betapa banyak hal yang belum kupersembahkan kepadamu. Aku tidak pernah merasa begitu dekat denganmu sebelumnya, hati kita. Aku ingin kau dekat denganku, mengulang kembali segala kejadian agar aku bisa merasakan kasih sayangmu yang kini kurasakan begitu luar biasa. Aku ingin punahkan pertengkaran-pertengkaran kita bahkan dalam bisupun hal itu selalu saja erat melekat padaku ketika itu. Maafkan atas segala prasangka burukku kepadamu. Kubiarkan puluhan tahun aku menjadikanmu sosok yang kerap kali lebih kejam dari yang kau perlihatkan. Tapi kini aku tidak bisa mengingkarinya (meski ku tak ingin ingkari lagi) bahwa kau adalah seorang Bapak yang punya rasa cinta besar kepadaku, dan dengan kekerasan juga ketegasanmu membuatku kini kuat menghadapi coba hidup. Ini berkatmu, kuwarisi ketegaran dan ketabahanmu yang sesungguhnya.

Bapak, terima simpuhku di sudut kakimu dengan segala maaf dan terima kasihku kepadamu. Atas dasar kasih sayang yang tak mengenal kata akhir, anakmu.

Kututup halaman buku harianku yang telah menjadi saksi pengakuan dosaku itu. Kuraih selembar foto, gambar itu bercerita banyak; seorang anak kecil dengan mata berbinar sedang duduk di bebatuan air terjun bersama seorang laki-laki gagah, aku dan Bapakku. Bahagianya kami ketika itu, mengejar kupu-kupu di pemandian air terjun Bantimurung. Pipiku membasah, ada kelegaan luar biasa yang mengalir bersamanya. Aku makin mencintaimu.

Kemudian sepiku terpecahkan dengan suara tapak kaki-kaki kecil yang berlarian dengan tawa canda riangnya. Mereka menghampiriku, berlomba menjatuhkan kepalanya ke pangkuanku, kurengku keduanya, kuciumi semuanya, aku menjerit dalam hati bahwa betapa aku masih jauh lebih beruntung dari pada mereka berdua, karena aku memiliki bapak yang bertanggung jawab dan penuh kasih, sedangkan anak-anakku tidak.

Mereka berdua bersahutan bertanya, meski sudah berulang kali kukatakan bahwa foto ini adalah Eyang kakung mereka. Dan berebut lontarkan tanya mengapa mereka tidak pernah bertemu dengan Eyangnya. Maka kujawab kesekian kalinya bahwa Eyang Kakung mereka ada di tempat yang sangat jauh, di surga. Lalu kami berlomba untuk saling berpelukan. Aku bahagia dalam tangis damai ini, dalam dekapan kedua anakku. Ini harta terbesarku darimu. Aku ingin selalu merasakan setiap detik yang membahagiakan, meski masih tebal terselubung luka di sebagian hatiku.

kamu :)

pada suatu masa, jauh sebelum kau sadari apa arti hidup, kau adalah tiupan ruh yang sedang mengadakan sebuah perjanjian..
Allah memberitahukan kepada kita (sang ruh), seluruh perjalanan hidup satu makhluk dari mulai ia menangis karena baru keluar dari rahim induknya, hingga kapan ia harus berpisah dengan jasadnya..
Allah bertanya padamu (tanpa kau sadari): ''apakah kau siap menjadi ruh makhluk ini?'' kau menjawab, ''ya, saya sanggup''..
Apakah artinya? Kau adalah ruh yang akan menghidupkan seorang manusia dengan mempertanggungjawabkan segala resiko.. Kau adalah ruh terbaik yang diciptakan untuk makhluk terbaik, yaitu manusia..


Dan apakah itu manusia? Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT yang PALING sempurna..
Kau mengalahkan keajaiban jagat raya, kau mengalahkan kilau warna bentangan tirai cahaya aurora di puncak gunung es..
Kau mengalahkan cantiknya bidadari surga.. Kau adalah makhluk yang diciptakan untuk memimpin seluruh ciptakan-Nya yang luar biasa itu..


Darimana manusia itu terbentuk? Manusia terbentuk dari cairan hina yang berisikan ciri khas seorang induk yang hanya sel itulah yang mampu mengerjakan tugas itu..
Ribuan bahkan ratus ribuan sel yang bernama sperma itu terdapat pada cairan mani itu..
Ketika mani disemprotkan, sel sperma beradu cepat untuk sampai pada sel ovum..
Apa itu sel ovum? Sel ovum adalah sel raksasa yang bersemayam di rahim seorang wanita yang benar benar mencintai pasangannya..
Dan ovum itu hanya menerima SATU sperma, ketika ovum bersatu dengan sperma, terjadilah proses pembuahan hingga melahirkan KAMU..


Jadi apa itu kamu? Kamu adalah makhluk yang paling sempurna, yang terbuat dari sel sperma yang terhebat, yang dihidupkan dari ruh yang terhebat pula.. Kau adalah seorang pemenang dan terus menjadi pemenang bahkan sebelum kau membuka mata pada alam dunia..


Jadi apa guna kau putus asa? Kamu sudah merasa kalah? Kamu adalah seorang pemenang, kawan.. Kamu adalah yang terhebat, kau adalah sosok makhluk yang diciptakan dengan bentuk yang paling sempurna.. Kau telah diciptakan untuk menang.. Jadi kau kira kau kalah? Tidak, kau menang.. Karena ketika kau tidak mendapat sesuatu yang kau ingingkan, sesungguhnya kau telah mendapat yang JAUH lebih baik, dan kau akan bangga dengan dirimu sendiri..

love and like ;)

In front of the person you love your heart beats
faster
But in front of the person you like you get happy.


In front of the person you love winter seems like
spring
But in front of the person you like winter is just
beautiful winter.


If you look into the eyes of the one you love you
blush
But if you look into the eyes of the one you like you
smile.


In front of the person you love you can't say
everything on your mind
But in front of the person you like you can.


In front of the person you love you tend to get shy
But in front of the person you like you can show your
own self.


The person you love comes into your mind every 2
minutes
You can't look straight into the eyes of the one you
love
But you can always smile into the eyes of the one you
like.


When the one you love is crying you cry with them
But when the one you like is crying you end up
comforting.


The feeling of love starts from the eye,
And the feeling of like starts from the ear.
So, if you stop liking a person you used to like,
All you need to do is cover your ears.
Then, like turns into love feeling.
But if you try to close your eyes
Love turns into a drop of tear and
remains in your heart forever after.

KETEMU ALMER :D

hiiiiiiii. ajib deh nih hari.
mana ujan, si iqbal kabur mulu dari sarangnya, bete gue, gue marah marah deh jadinya.

gue berharap nemu kejadian unik sore sore.

pas lagi liat liat dan beli dress di stand bazar, ada yg sms gue

77 tuti
geb, lo dateng ke bazkom gak?

karena lama kalo sms, gue telfon dia
terjadilah percakapan bodoh

t(tuti)
g(gebi)

g: halo, tuti? kenape cinta?
t: hah? ini siape?
g: oh ini gebi nomer xl. kenapa tadi nanya gue dibazkom kagak?
t: gapapa, ada almer mau kesitu
g: APA???! (mengedarkan mata keseluruh penjuru sekolah) almer yang kayak gimana sih?
t: yang paling cakep geb, cari aja (dengan nada menyakinkan)
g: (sambil mencari almer) hah? iya aaaaaaa (ada cowok ganteng pake baju item masuk kesekolah, gue panic).... AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
(gue teriak di telfon)
t: kenape geb?
g: iqbal tut, iqbal!
t: KENAPE?
g: GANTENG ANJIIIIR. UDEHAN YE PULSA MAHAL NIH. DADAH. SAMLEKOM!

beberapa saat gue cengo dan bingung, kok iqbal ganteng ye? ckck.
gaklama, gue telfon tuti again

t: halo kenape geb?
g: yaampun tut, iqbal ganteng! gue baru sadar iqbal ganteng hahaha. gantengan iqbal apa almer?
t: ya almer lah! iqbal apenye yang ganteng?
g: gue rasa gantengan iqbal. paling tuh ye si almer mirip aleale bapuk leher dakian muka bopengan gitu kan tut?
t: tai. YA KAGAK LAH! udeh cari aja yang ganteng!
g: oke deh


dan saat itu juga gue mencari cowok ganteng didalem bazkom


sambil muter muter, gue nunggu si iqbal dibawah terpal stand bazar (asek). biasalah, iqbal kan busy gitcuh. aku dtelantarkan. huaaaaaaaa
gue beli es buah jeli jeli gitu dan makan sama iqbal bareng uta dan pak nurdin.

tiba tiba ada sesosok (??) lelaki TAMPAN menghampiri iqbal
gue nggak ngeh kalo dia temennya iqbal. abis mungil banget. tiba tiba aja iqbal udh asik ngobrol.
gue namnya deh sama iqbal

g: bal, katanya tuti si almer mau dateng? mane?
i: lah INI APAAN? (nunjuk cowo ceking pake sendal jepit baju merah nyengir nyengir. persis anak ilang)
g: HAH? IYA APA? ASTAGHFIRULOH, KATA TUTI CAKEP?
dan siganteng pun bicara....


a: TUTI ITU TUKANG FITNAH. jangan percaya deh. FITNAH. DEMI ALLAH (sambil nyengir kuda berasa paling ganteng)
g: tapi kata tuti, lo ganteng
temen gue nyambung
uta: iya tadi ada yng bilang katanya gantengan iqbal
i: HAH? SIAPA YANG BILANG????? (heboh gitu berasa baru sekali dibilang ganteng)
g: SIAPE TA YANG BILANG IQBAL GANTENG? PARAH BANGET TUH FITNAH!
i: SIAPA YANG BILANG AKU GANTENG?? (ngeliat ke gue dengan muka mesem mesem)
g: heeeeeee, bukan aku kayaknya (terpaksa berbohong, hehehe)

iqbal dengan almer larut dalam tawa canda, membicarakan TETE yang hapenya mirip iqbal terus iqbal najis najis gitu. ckck seharam itukah tete? mereka membicarakan tentang barangnya tete yang kata iqbal cuma sejari kelingking. entah itu barang apa -,-
lalu iqbal masuk ke dalem sekolah. biasalah, bussiness man.
menelantarkan almer
lalu saya ajak almer berwisata di bazkom
eeeeeeeeeh, saya ditinggalin.


dasar pacar tuti gatau diri ahhahaha piss merrrrrr

lagu bodoh&gue bodoh

Kau pernah melukai aku kusadar itu
Kau pernah meninggalkan aku dan kusadar semua itu
Tak pernah kusangka dirimu tak bisa cintaiku
Jika ku tetap mengharap dirimu mungkin itu mau mu

Reff:
Bodohnya diriku slalu menunggumu yang tak penah untuk bias mencintai aku
Oh Tuhan tolonglah beri aku cara untuk dapat melupakan dia
Dan cintanya

Tak pernah kusangka dirimu tak bisa cintaiku
Jika ku tetap mengharap dirimu mungkin itu mau mu
back to reff




entah kenapa ya, ini lagu gue banget dah. udah tau orang yang ditunggu engga mau lagi sama gue, masi aja dgn sabarnya nunggu. ntah knapa, gue sayang ama sebastian swastirto. sayang, sayang banget. setiap apapun yg dia mau, gue berusaha apapun, demi dia. setiap dia ada masalah, cerita sama gue. bukan belagu juga, tp kenyataan dia emang bisa terbuka sama gue, mau ngomongin tentang hal sepele sampe masalah besar, dia ngomong sama gue.

Tanggal 26 kemarin, gue pengen liat dia rekaman,kesukabumi. gue udah siap dgn sepenuh hati kesana ketika dia marah marah sama gue, "tau gak ini macet?musim arus balik?gak!gue gamau lo sendirian kesini"
awalnya, gue ama dia mau ketemuan di elos, diapun udah mengiyakan. tapi, tiba2 disms anak JOJW kalo besok rekaman. Argh, gue nangis, tapi ga bisa. gue mau kesukabumi,dimarain dia. yasudah, tak apa. gue si pengen sebelum UTS ketemu, tgl 10okt ituloh pas mooncake, tapi apa dia mau ketemu gue?

sudah.

bas udah jadian ternyata sama widya
tanpa sepengetahuan gue (emang gue siapa?)
padahal kan ya, pas hari kamis dia blg,
yaampun aku sih gamau punya cowo kea gitu kak, muna bgt. tenang aja kak, klo kk syg, pertahanin aja, aku selalu dukung kakak.

NYATANYA?
 gue diboongin mentah mentah sama bas, sama widya,
sakiiiit baget!
dan hari ini gue sms bas, adu argumen,
dia blg gue disuru damai ama widya
loh, yg ajak ribut? yg duluan nyelak punya sohip sendiri, siapa?
Ya Allah, turun harga diri gue harus minta maaf ke dia

terpaksalah, gue ngalah. ngejauh dari dia, dan bas.
tapi mengalah bukan berati kalah
nantilah, gue post smsnya bas ke blog, biar sahabat blog gue pada tau (tau ape deh?)

sudahlah, gue udah digigit nyamuk --a

lelaki bangs*t

huah tahe tahe
cowok gada yg waras
pagipagi syok sama wtw nya si widya ratrisama sebastian swastirtoBIKIN PANAS!

my lovely notes muacccch

hmm please all, komen poems gue dong (yang ratarata gue post di notes fb zzzzt)
thanks!



GANYANG LELAKI! :D

sayang banget sama temen temen :)

banyak yang sayang ama gue
aaaaaaaaaaa banyak banget yg peduli deh ama gue
semua bilang "jangan sedih gab, jangan nyerah gab,"
tetep aja gue rapuh and letoy
gara gara cowo sialan, gue jadi gini nih
yang satu udh nemu pacar barunya, yang satu udh pacaran ama kereta,
au ah pusiiiing
riris, temen gue yg byutipul selalu ngedukung gue,
lewat notes fbnya, 
sedih deh banyak yg ngedukung gue
awalnya gue ngerasa bego, tapi akhirnya gue sadar kalo gue harus bangkit.

GANYANG LELAKI! :D

Heran!

Orang yang slama ini jadi kebanggaan gue, tmpat curhat, tempat gue nangis dan ketawa, orang pertama yang ngedukung2 gue, ternyata ngambil jalan yg salah dalam hidup ini. Yes, she is pregnant and i dunno who has made love with her, 3 months ago :'(

Untukmu:

Untukmu:
Back to Top