Possibility


Everyday we wish that I can meet our dream
girl someday
We always imagine what is like our dream
girl each night
She has to be clever, beautiful, cute,
charming and perfect
More less perfect in our eyes actually
Many people doubt with what others people
thinking sometime
They say “There are no way you can find
that kind of your perfect girl
There’s only be one possiblity in a millon
chances
How possibly you could get that chance?”
Maybe what they are trying to say is right
but whose life they’re talking?
Each day we try to learn what is love
From many relationships around us, friends
around us
We see love movies, we listen many love
songs, we read many love stories
Why they create those if they know that
there’s no possibility?
I think we can say that sometime in every
heart of some people
Are believing that love it’s not that to easy
to come
We pray, we try each day but we couldn’t do
one thing
We can’t forward time as we like
There will be a time that every people will
find their love
Maybe not now, maybe not tomorrow, maybe
not in couple of months
But as long as there’s word of possibility
in dictionary
We can give our patiences, our passions,
our dreams
To have a possibilty to find our love, the
love that we truly need
Not based on peoples comments but based on
ourself
A possibility to meet our love,
it’s the beauty of loving.
(Inspired by Shanghai Kiss movie)

about birthday

Each year we will celebrate our birthday
Each year we will be old as time goes by
But what is the meaning of being old?
Are we older than before?

Or people can say that we more mature than before?

Being old or not, it’s just a process of life regenaration
Being mature or not, it’s an option for each person
Being older is reflection of our past life
Reflection to think again what we have done last year

Age is just a numbers, body doesn’t change, it still flesh
The important thing is our soul, inside of each of us
The soul that lead us to be right or wrong
Right or wrong, it will be decided by wisdom
That’s why being wise is a duty

Grown up people understand which one is right or wrong
But can’t do about it
‘Cause it’s just physically
Wise people understand and can do which one is right or wrong
Not every people can be wise, so do we

That’s why we learn how to become mature and also be wise in the same time
Life is short, time goes fast
It is the time we make a change to our life
Through process, experience and study
No one is perfect, but trying to be better than before isn’t a guilt

May GOD bless you all

Amin

my prayer

Two days ago, I saw this Korean movie…it’s really make my mind about love open wide when it related to someone special for me.


What is the most fear when I am being in relationship with someone that I loved?
Do I fear my couple will cheat on me? Lie to me? Or treat me very bad?
Before I saw this movie, I thought like that…but there’s something deeper than those reasons…
The most fear is when I am being together, deeply in love, so many smile and happiness…but I only have short time to enjoy that moment.
I think it’s really painful…it can’t be described by words…only tears and sadness…for I will be losing my special person that I want more time to be together.
Maybe I just can do, only hope & pray…hope & pray that HE will give me a little time longer to spend my time with someone I love…even just for a day, an hour or a minute…eventough faith is running on me.
Losing someone I love when I break up, it’s totally sad…but losing someone I really love beacuse I can’t againts the most defeateable will…death I mean…it’s really worst.
I’m just hoping & praying it won’t be happened to me. I just want to pray to GOD…I really pray to you, my mighty GOD…please don’t put myself into that situation. I’m just human being, I just weak. Please don’t give me trial that too much hard. I just want to live happily forever with someone I love.
I really learn one thing from this movie…when I already found my true love, I don’t want to underestimate love…or treat my love very bad…I just want to make her happy…hopefully I can make it no matter how. Because true love for me is really precious and to find true love is not easy, it takes time…that’s why I hope I can do the best when the time of true love come. God bless me and all of us. Amin.

Friendship :)

God didn’t promise days without pain,
laughter without sorrow, sun without rain,
but He did promise strength for the day,
comfort for the tears, and light for the way.

Disappointments are like road humps,
they slow you down a bit
but you enjoy the smooth road afterwards.

Don’t stay on the humps too long. Move on!

When you feel down because you didn’t get what you
want, just sit tight and be happy, because God is thinking
of something better to give you.

When something happens to you, good or bad, consider
what it means ….

There’s a purpose to life’s events, to teach you how to
laugh more or not to cry too hard.

You can’t make someone love you,
all you can do is be someone who can be loved,
the rest is up to the person to realise your worth.

The measure of love is when you love without measure.

In life there are very rare chances
that you’ll meet the person you love and loves you in
return.

So once you have it don’t ever let go,
the chance might never come your way again.

It’s better to lose your pride to the one you love,
than to lose the one you love because of pride.

We spend too much time looking for the right person to
love or finding fault with those we already love, when
instead we should be perfecting the love we give.

When you truly care for someone,
you don’t look for faults,
you don’t look for answers,
you don’t look for mistakes.

Instead,
you fight the mistakes,
you accept the faults,
and you overlook the excuses.

Never abandon an old friend
you will never find one who can take his place

Friendship is like wine, it gets better as it grows older.

Ajari aku, Tuhan


Ajari aku Tuhan
untuk memiliki kasih
ketika yang aku terima adalah kekecewaan
Ajari aku Tuhan
untuk meminta maaf
ketika aku telah melakukan kesalahan
Ajari aku Tuhan
untuk menjauhi dosa
ketika dunia menawarkan sejuta kenikmatan semu
Ajari aku Tuhan
untuk terus bangkit
ketika aku jatuh ke dalam keterpurukan
Ajari aku Tuhan
untuk selalu percaya
ketika semuanya kelihatan mustahil terjadi
Ajari aku Tuhan
untuk bisa berserah
ketika tiada harapan akan suatu keajaiban
Ajari aku Tuhan
untuk tulus bersyukur
ketika yang terjadi tak sesuai yang aku mau
Ajari aku Tuhan
untuk rela berkorban
ketika orang lain membutuhkan pertolongan
Ajari aku Tuhan
untuk tetap bertahan
ketika badai kehidupan datang silih berganti
Ajari aku Tuhan
untuk rendah hati
ketika aku memiliki semua yang aku perlukan
Ajari aku Tuhan
untuk setia berdoa
ketika belum ada jawaban atas setiap harapan
Ajari aku Tuhan
untuk mau belajar
ketika aku tidak bisa menjalani proses ini

simple love ♥

kemarin, tanpa lelah aku menunggumu yang bersembunyi dalam lipatan waktu. Berjelaga dalam kubangan kerinduan yang semakin menenggelamkan aku. Namun aku tak coba mencarimu, hatiku berbisik bahwa cintaku akan membawamu kembali.


dan ketika akhirnya saat itu tiba, kutemukan sosokmu yang selalu mengisi mimpi-mimpiku. Bukan percikan bahagia yang aku nikmati, namun pahitlah yang kukecap kala kau berujar " Kini aku bersamanya, aku tak ingin melihatmu lagi, tolong tinggalkan aku"

Jangan pikir aku tak mampu menangkap lara yang samar-samar kau alirkan. Hujaman kata-katamu yang tajam, tak selaras dengan matamu yang berkaca-kaca. Dan aku pun sadar, bukan hanya hatiku yang kau lukai, kau sedang mengunyah ego...


kau tak akan tahu betapa dalam aku terluka, karna aku telah berujar pada diriku, tak akan mengerang meski perih menusukku, atas nama cinta. Hanya senyum kecut yang kusuguhkan, namun tangis itu pecah dalam hatiku.


satu hal yang ku ingin kau tahu.., kau boleh mendepak aku dari singgasana hatimu, kau boleh saja memutus jembatan antara kita. Tapi jangan pernah minta aku untuk melupakanmu, apalagi sampai memaksaku untuk berhenti mencintaimu, KARENA AKU TAK AKAN PERNAH MAU DAN TAK AKAN PERNAH BISA.


Aku mencintaimu dengan sederhana, cinta yang terus tumbuh meski tak dimaknai. bahkan waktu jua tak berdaya menggerus cintaku yang terlindung dalam selaput ketulusan.


Sempat aku ingin mengurai tanya " mengapa kau lari dariku bila kepingan hatiku masih kau gantung dilehermu?" Hatiku pun ingin berteriak, " mengapa harus dia? (yang katamu tak akan pernah menggantikan tempatku dihatimu)" Tapi tanya itu hanya menggantung tanpa sempat kupetik. apa gunanya aku bertanya, karena apapun jawabnya, rasa ini tak akan beranjak. Dalam diam kucoba tepiskan lara dan menunggu hari bahagiamu.


aku seperti pesakitan yang menunggu vonis dijatuhkan. Namun tak pernah kupinta padaNya agar tak akan pernah ada kalian. Sejak diawal kisah ini, kala aku telah mampu mengeja cinta, yang paling kuinginkan bukanlah memilikimu, melihatmu bahagia itu ingin hatiku. merelakanmu bersanding dengannya adalah ujian untuk cintaku.


Jujur aku akui, saat hari itu merayap mendekat, aku semakin tercekat. Dan kini aku berjuang keras membangun benteng pertahanan yang kokoh agar aku tetap tegar berdiri dihari bahagiamu.


Akan aku buktikan padamu, cintaku yang sederhana telah memberikan aku kekuatan yang tak biasa untuk mencintaimu tanpa alasan tanpa syarat. Pegang janjiku, meski terluka parah akan kuhadiahkan senyum termanis dipesta pernikahanmu

mencintai-kahlil gibran

mencintai,

bukanlah bagaimana kamu melupakan..
melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN..
bukanlah bagaimana kamu mendengarkan..
melainkan bagaimana kamu MENGERTI..
bukanlah apa yang kamu lihat..
melainkan apa yang kamu RASAKAN..
bukanlah bagaimana kamu melepaskan..
melainkan bagaimana kamu BERTAHAN..

Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati...
dibandingkan menangis tersedu2...
Air mata yang keluar dapat dihapus..
sementara air mata yang tersembunyimenggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang..
Akan tiba saatnya di mana kamu harus berhenti mencintai seseorang
bukan karena orang itu berhenti mencintai kita
melainkan karena kita menyadaribahwa orang itu akan lebih berbahagia,
apabila kita melepaskannya.
Apabila kamu benar2 mencintai seseorang,
jangan lepaskan dia..

jangan percaya bahwa melepaskan selalu berarti kamu benar2 mencintai
melainkan...
berjuanglah demi cintamu
Itulah cinta sejati
lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan
daripada berjalan bersama orang 'yang tersedia'
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai
daripada orang yang berada di sekelilingmu
Lebih baik menunggu orang yang tepat
karena hidup ini terlalu singkat untuk dibuang hanya dengan 'seseorang'

CURAHANKU PADA ALLAH

Allah, apa yang ingin engkau perlihatkan, saat rasa itu mulai datang kunikmati setiap waktu dengannya,ada nyaman yang jarang kutemukan dengan yang lain, merenda mimpi yang terasa indah, melambungkan sejuta harap dan asa yang mungkin terlalu tinggi.. salahkah itu?

Allah, tahukah bahwa aku berharap dapat bersamanya, kemudian kurangkai mimpi yang terucap dalam setiap obrolan kita, namun ada yang lain harus kulakukan, tatkala harus memilih kukorbankan rasa ini, aku merasa tak pantas buat dirinya menurutku yang terlalu sempurna.

Allah, mengapa engkau perlihatkan jalan yang lain, aku memilih menghapus mimpiku dan melepasnya, naum mengapa kau beri aku cobaan yang bertubi-tubi ini? Hati ini mulai sakit dan tangisku mulai pecah di malam-Mu, disetiap sujud-Mu. Namun entah mengapa ketenangan itu belum kudapat.

Allah, Engkau maha tahu bagaimana rasa ini untuknya, berikanlah ia kebahagiaan selalu. Jika denganku kebahagiaannya terkekang, maka lepaskan aku darinya. Jika aku masih diberi kesempatan, lihatlah aku dari tempatmu yang tenang, tuntun aku ke jalan yang benar agar aku dapat membahagiakannya.

seberapa lama aku sanggup bertahan

Hey, kau yang disana!
Apakah kau mendengar suaraku yang parau?
Apakah kau melihat diriku yang lemah?

Hey, kau yang disana!
Apakah kau mampu menemukan sinar mataku lagi?
Apakah kau mampukah mengembalikan senyumku?

diam?
mengapa kau diam?
mengapa tidak menghampiriku?
tidak pula kau menatapku.

perlukah aku berteriak lebih keras lagi?
perlukah aku yang menghampirimu?

mengapa kau harus diam?
Apakah kau tidak mengasihaniku yang mengemis meminta belas kasihmu?
Ataukah kau mencoba berpaling dariku?

diam?
kau masih saja diam?
haruskah aku memberimu waktu untuk bicara sedangkan telah sekian lama aku yang diam.

hey.......!

bolehkah aku mencuri hatimu?
bolehkah aku membelah hatimu?
agar aku bisa mengetahui siapa saja yang ada dihatimu .
agar aku bisa mengetahui seberapa besar kau membenciku .

Kucoba menjauh darimu.
Sebuah jarak antara barat dan timur.
Mungkin jarak itu cukup untuk kau rasakan rindu yang kurasa.
Dan selama itu akan kutunggu kamu menghampiriku.

Kau masih berdiri disana?
Perlukah aku berteriak pada telingamu.
Akan kusampaikan segala emosi yang bergejolak.

Akan kusampaikan, bahwa aku mencintaimu.
bahwa aku merindukanmu.
bahwa aku membutuhkanmu.

bila kau bertanya mengapa.
aku akan menjawab, karna kamu segalanya bagiku.
Meskipun kutahu, hanya diriku yang menganggapmu begitu.

kucoba untuk bersabar.
kucoba untuk menunggu.
kucoba untuk menanti.
kucoba untuk tegar.
dan kucoba untuk percaya bahwa kau kembali.

namun salahkah aku bila aku semu dengan semua yang mulai membunuhku?

kau mengulur waktu yang kuberikan.
kau menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
kau biarkan aku menjauh bahkan lebih jauh.

tapi salahkah aku masih menunggumu? hanya satu jawabannya, tentu tidak.

mungkin aku yang salah telah mengkhianatimu.
mungkin aku yang salah telah mendustaimu.
mungkin aku yang salah telah meninggalkanmu.

tapi apakah aku juga yang salah karena penyesalanku datang terlambat?

Aku tak tahan !
Aku tak tahan !
Aku tak tahan !
Aku tak tahan !

Kumohon, datanglah padaku !
tampar wajahku !
Tusuk jantungku !
Dan carilah hatiku bahwa disana masih terukir namamu...

drama satu babak dalam hujan

Cuma sepenggal kata itu yang meluncur dari gadis yang sedari tadi menunduk di hadapan kekasihnya itu. Lalu mereka terbanting dalam sunyi yang mencekam. Berkali-kali kekasihnya melontarkan tanya tapi berkali-kali pula dia menyodorkan diam.

Gadis itu masih menunduk. Menggigit bibirnya dan tak berani mengangkat wajah apalagi memandang manik mata cowok yang telah mendampinginya menyambut rinai selama hampir dua tahun.

Tak ada jawaban.

Tak ada air mata.

Cuma gemericik air hujan dan lagi-lagi hempasan angin.

Lalu perlahan gadis itu berbalik dan pergi. Meninggalkan kekasihnya yang masih tergugu dalam diam. Pria itu tak bisa apa-apa karena dia tahu pasti sia-sia belaka mengejar gadis itu dan meminta penjelasan untuk ketidakmengertiannya. Dia pasti akan menuai diam kembali. Seperti tadi.

Dia cuma menatap punggung itu sembari berharap gadis itu akan berbalik dan menyapanya dengan selarik tawa renyah.

Aku cuma bercanda, katanya. Lalu mereka kembali bercengkerama dan saling memercikkan air hujan. Seperti biasanya. Sebentuk senyum pun membias di hati.

Tapi punggung itu terus saja menjauh. Melangkah tanpa menoleh sedikitpun. Mulai mengabur di balik tirai hujan. Lalu menghilang di kegelapan. Sementara pekat enggan memantulkan sosok gadis itu dalam matanya.

Dia pun menggigil.

***

Malam kian larut. Bias kelam semakin pekat. Senyap. Cuma ada suara nyaring jangkrik dan desik air dari pepohonan. Ada juga beberapa lagu riang para kodok yang menimpali suara si jangkrik. Seperti orkestra malam. Pertanda bahwa hujan telah usai.

Aku melangkah menuju teras. Pelan. Sedikit bersijingkat malah karena aku tak ingin mengusik siapapun. Sisa-sisa rinai yang masih melekat di tubuhku menetes dan jatuh ke lantai. Menciptakan genangan kecil.
Sementara itu desah angin malam menyusupkan gigil dan membuat seluruh indera perasaku serasa melumpuh. Beku.

Aku mendorong daun pintu. Perlahan. Aku tak ingin menimbulkan bunyi-bunyian yang akan membangunkan seluruh penghuni rumah ini. Aku bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebuah drama memilukan dan mereka akan memerankan tokoh-tokoh dengan mimik iba bercampur kuatir membias di wajah masing-masing. Tentu saja peran itu tidak berlaku untukku. Aku cuma menjadi objek dari tatapan-tatapan iba itu. Sungguh drama yang membosankan.

“Dinda”

Langkahku terhenti.

Aku menoleh ke arah sumber suara. Mataku terbentur pada sosok mama yang masih terjaga di pojok ruang tamu. Ada kantuk menggantung di matanya. Tampaknya beliau sangat kelelahan karena selalu mengurusi segala kebutuhanku bahkan hal-hal yang paling kecil sekalipun.
Terkadang mama menyempatkan diri untuk menyuapkan satu atau dua sendok makanan kala pisau mengiris-iris lambungku atau saat nyeri menghujam kepalaku. Bahkan beliau masih terjaga selarut ini hanya untuk menungguku.

“Kamu dari mana saja, sayang?” tanya mama dengan lembut. Aku menemukan raut cemas juga guratan-guratan lelah disekitar matanya. Beliau menghampiriku.

“Badanmu dingin sekali. Kamu basah kuyup” ujar mama. Panik.
Aku tersenyum sebagai isyarat pada mama untuk tidak kuatir. Tapi tampaknya usahaku itu tidak berhasil.

Dengan tergopoh-gopoh mama mengambil sehelai handuk. Lalu berusaha mengibaskan sisa-sisa hujan di rambutku dan melingkarkan handuk tersebut di sekujur tubuhku.

“Mengapa tak menunggu hingga hujan reda? Seharusnya kamu menelepon agar papa bisa menjemputmu.” Suara mama terdengar jengkel karena aku sama sekali tak peduli apalagi mencemaskan diriku. Seperti dirinya.
Ah, selalu saja begitu.

Jujur, aku letih menjadi pusat perhatian baik dari Mama, papa atau Mbak Ina. Seolah-olah mereka tak percaya aku bisa bertanggung jawab terhadap diriku sendiri. Dan selalu saja mempermasalahkan hal-hal kecil yang katanya bisa mengusik kenyamananku padahal aku sendiri tidak pernah merasa tidak nyaman. Justru aku gerah dengan semua perhatian mereka.

“Aku tidak apa-apa kok, ma”

Aku mencoba menenangkan mama. Lalu menyematkan binar di wajahku untuk lebih meyakinkan mama. Aku mengambil alih pekerjaan mama dan mulai mengeringkan tubuhku, mengusap pipiku kemudian melilitkan handuk itu di kepalaku.

“Seharusnya kamu menelepon dulu agar mama dan papa tidak kuatir. Kamu ingat khan pesan dokter?”

Ah, yah… pesan dokter. Aku mendesah. Melempar pandang ke petak-petak ubin yang terasa dingin di telapak kakiku. Nanar.

Semenjak penyakit sialan ini bersarang di kepalaku. Sejak itu pula aku tak berhak atas hidupku. Dan vonis dokter adalah klimaks dari belenggu ini Segala hal harus teratur termasuk menenggak berpuluh-puluh pil pahit dan membiarkannya meluncur di tenggorokanku. Katanya untuk mengurangi rasa sakit yang memang selalu menyergap kepalaku tiba-tiba. Aku benar-benar bosan dengan semua itu.

“Kamu harus lebih banyak istirahat. Jangan terlalu lelah. Jangan….”
Lalu berbagai larangan dalam bentuk kata jangan meluncur. Seperti biasa.

Aku cuma mengangguk. Pelan. Lalu melangkah menuju kamar.

Aku merasakan penat di sekujur tubuhku. Bukan saja karena terlalu jauh berjalan tapi karena beban yang bergelayut sejak tadi sore. Ah, andai saja aku bisa menguraikan alasan atas pertanyaan-pertanyaan itu. Aku bisa sedikit lega. Setidaknya kata rela menjadi akhir yang baik untuk kisah kami. Tapi aku tak mau ada pemeran baru lagi dalam drama memilukan ini. Biarlah.

Baru saja aku hendak menjejal lantai kamar tidurku, tiba-tiba saja aku merasakan beribu-ribu jarum menghujam kepalaku. Menghujaniku dengan nyeri bukan kepalang. Lalu bongkahan-bongkahan es menindih otak bagian belakang. Bertubi-tubi. Lalu nyeri itu menjalar ke seluruh pusat syaraf. Aku berhenti sejenak. Dan memegangi daun pintu yang sekejab saja beralih fungsi sebagai penopangku.

Aku mengigit bibir. Berusaha menahan rasa sakit. Tapi jarum-jarum itu terus saja tumpah ruah di kepalaku.

Bau amis merebak di seluruh ruangan.

Pandanganku mulai mengabur. Dunia seakan berputar serupa spiral. Seluruh perkakas yang ada di ruangan ini pun berubah warna. Abu-abu. Aku mengerang.

“Dinda!!”

Masih sempat aku mendengar mama memekik. Panik. Sebelum kelam menyergapku. Sebelum aku merasakan kaku di setiap sendiku.
Lalu di sekelilingku cuma ada warna hitam. Pekat.
Senyap.

***

Aku masih melangkah. Entah sudah berapa lama. Aku pun tak tahu. Aku cuma ingin melangkah dan terus melangkah. Melarung seluruh duka dalam tetesan air hujan. lalu membiarkannya meluruh menuju laut. Aku sudah terlalu lelah. Bahkan air hujan yang melekat di tubuhku telah mengering sedari tadi. Pertanda sudah cukup lama aku menyusuri malam. Sendirian.

Aku masih tidak percaya dengan pernyataan Dinda tadi. Padahal aku merasa tidak ada yang salah di antara kami. Bahkan kemarin sore kami masih merangkai mimpi bersama-sama. Tak lupa membubuhkan sedikit sumpah dalam kata setia. Manis. Tapi mengapa harus ada kata perpisahan?

Tiba-tiba prasangka memenuhi kepalaku bila gadis yang senantiasa memenuhi rongga hatiku itu ternyata tak merasakan rasa yang sama dengan rasaku. Ah, mungkinkah?

Aku masih terus melangkah. Entah sudah sejauh mana. Aku tak tahu. Aku cuma tahu bila kakiku sudah terlalu penat dan enggan untuk meneruskan perjalanan lagi. Apakah penat itu juga yang memenuhi hati Dinda sehingga dia memutuskan untuk berhenti melukis hari bersamaku? Hah, dadaku sesak.

Aku memasuki pekarangan rumah dengan gontai. Mendorong pintu pagar. Tak bersemangat. Saat ini aku cuma ingin membenamkan penat di ranjang. Lalu terbangun esok pagi dengan seulas sapa hangat. Seperti biasa. Cuma mimpi, demikian aku akan mengguman. Mungkinkah.

Tapi langkahku seketika merandek saat menemukan satu sosok yang mematung di teras. Sosok itu terpaku dengan kepala menunduk.

“Dinda?” desisku. Heran.

Aku mempercepat langkah. Aku ingin memastikan apakah sosok itu benar-benar Dinda. Benar. Itu Dindaku. Ah, ternyata tadi sore cuma bagian dari keisengannya. Ada sedikit lega dalam dadaku.

“Dinda…”

Dia mengangkat wajah. Begitu melihatku, Dinda segera berlari ke arahku. Lalu menghambur dalam pelukanku. Erat sekali.

“Maafkan aku, Re”

Ada isak tertumpah dalam dada. Aku membelai rambutnya. Lembut.
Tidak. Aku takkan pernah bisa mempersalahkan gadis ini apalagi menudingnya sebagai pengkhianat dari sumpah yang pernah kami urai bersama. Akupun tak sanggup bila dia benar-benar menghilang dari tatapanku, seperti sore tadi. Jangan lagi memerankan lakon seperti tadi, pintaku dalam hati.

“Maafkan aku, Re” ucapnya. Berkali-kali. Tanpa henti. Aku mengangguk. Ada seribu maaf untuknya. Selalu.

Aku menuntun gadis itu menuju rumah. Tapi dia menolak. Lalu aku membimbingnya menuju kursi taman. Ah, wajah itu sungguh pucat. ada lelah menggantung di matanya. Bibirnya membiru. Dan tubuhnya terasa begitu beku. Mungkin angin malam telah menyusupkan gigil ke sekujur tubuhnya. Atau mungkin dia terlalu lama memeluk tangis. Dia terlihat begitu keletihan. Ringkih.

Aku pun menawarkan segelas teh hangat. Dia mengangguk. Lalu aku beranjak menuju rumah. Tapi jemarinya menahan langkahku.

“Re, kamu tidak marah padaku ‘kan?” tanyanya. Lagi.

Aku berjongkok. Menyapu wajah gadis itu dengan tatapan lembut. Dia menggigit bibir.

“Aku takkan pernah bisa marah apalagi membencimu, Din,” jawabku. Pasti. Lalu dia memelukku. Erat. Bahkan lebih erat dari sebelumnya. Aku merasakan dingin di sekujur tubuh itu.

“Terima kasih, Re” tuturnya. “ Setidaknya aku bisa lebih merelakan takdir.”

Aku bingung. Tak mengerti sedikit pun.

“Terima kasih,” ulangnya. Lagi. Sesaat sebelum aku menghilang di balik pintu. Dengan tergesa aku melangkah menuju dapur. Menyeduh segelas teh penawar beku.

“Din, ini teh hangat un…”

Ucapanku terhenti. Tak ada siapapun. Aku mencari sosok Dinda di seluruh taman. Tapi aku cuma menemukan sepi.

“Dinda?” panggilku. Tak ada sahutan. Aku celingak-celinguk. Tapi tak jua aku menemukannya.

Dinda?


***

Grek-grek-grek…

Terdengar suara derak-derak roda berpacu dengan panik. Beberapa wajah membiaskan raut cemas dengan napas menderu. Sementara derap langkah tergesa-gesa membuat suasana di tempat ini semakin mencekam.

“Maaf, sebaiknya anda menunggu di luar,” cegah wanita berseragam putih itu. Langkah mama tertahan. Dia menyempatkan diri ‘tuk menjenguk ke arah dalam. Di sana sosok putri bungsunya terbujur kaku dengan wajah kesakitan.

Lampu di atas tulisan ICU menyala. Semua terdiam dalam cemas yang teramat sangat. Papa memeluk mama yang sekuat tenaga menahan isak. Sementara Ina mondar-mandir di depan pintu ruangan berlabel ICU itu. semua membisu dalam kaku.

Sudah hampir 1 jam. Tak ada pemberitahuan apapun. Ruangan itu masih membeku. Tak ada tanda-tanda akan terbuka. Dan mereka terus menggigil dalam cemas.

Krek…!

Pintu menguak. Setiap kepala mendongak. Satu sosok menyembul dari balik pintu.

“Dokter, bagaimana kondisi Dinda?” Cecar mereka dengan napas tersengal. Sosok berseragam putih yang mereka panggil Dokter itu mendesah. Dia mengusap tetes-tetes letih di dahinya. Lalu membuka masker yang membalut hampir separuh wajahnya.

Mereka menahan napas. Berharap bahwa kabar baik yang akan meluncur dari sang dokter. Bukan berharap tapi meminta karena mereka belum siap mendengar hal buruk tentang Dinda.

“Maaf, kami telah berusaha semaksimal mungkin. Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain. Kam…”

Belum lagi dokter selesai mengumumkan berita tersebut. Mama telah histeris. Beliau memaksa masuk ke dalam ruangan.
Dinda!!!



***

sebelumnya...

“Lihat, Din. Sepertinya langit mulai mendung,“ ucap Reza dengan gembira sambil menunjuk ke atas. “Sebentar lagi kita akan bermain di bawah Rinai”

Gadis yang ada di sampingnya tak menyahut. Seperti biasanya. Reza bingung karena dia menemukan mendung juga menggantung di mata kekasihnya. Padahal biasanya gadis ini akan menari bersama irama hujan. Menikmati setiap desis angin dan gemericik air.

“Din…” Dinda memalingkan wajahnya

“Re, aku ingin semuanya berakhir.” ujar Dinda

Reza terperanjat.

“Maksud kamu?”

“Aku ingin mengakhiri hubungan ini. Kita mengambil jalan masing-masing.”

“Kamu bercanda bukan? Ini cuma…”

“Tidak, Re. ini bukan sekedar lelucon,” potong Dinda. Cepat.

“Tapi kenapa, Din? Apa aku telah menyakitimu? Apa aku telah membuatmu tidak nyaman? Beri aku alasan untuk menerima keputusan ini.”

Tak ada jawaban.

Dinda cuma menunduk. Reza tak bisa meneriman keputusan ini. Dia terus mencecar gadis itu dengan berjuta kenapa. Tapi Dinda tetap membisu.
“Maaf, Re.”

***

Epilog:

Mendung menggantung di langit. Pekat berarak lalu perlahan-lahan menelan binar mentari. Desik-desik angin bergelayut. Manja. Menyusupkan gigil di setiap sendi.

Reza masih terpaku di sana. Menatap luruh ke arah gundukan tanah yang masih memerah. Dia meraba selembar papan yang menancap di atas gundukan itu. Ada sebaris nama tertulis di sana: Dinda puspita.

Ah, ternyata gadis itu memikul beban yang begitu berat sendirian. Dia tidak mau berbagi karena tidak mau dikasihani bahkan oleh Reza sekalipun. Dia ingin normal seperti gadis-gadis lain walaupun dengan kanker bersarang di kepalanya.

Kelam kian pekat di langit. Gesekan dedaunan juga suara hempasan angin kian kencang. Lalu titik-titik hujan mulai tercurah. Reza beranjak meninggalkan tempat ini. sejenak dia menengadah ke Langit. Lalu melangkah pergi.

Din, Sebentar lagi kita akan bermain di bawah Hujan.

Untukmu:

Untukmu:
Back to Top