Antologi kata; Analogi rasa; Jemari bersabda.
Huu.. Huu.. Huu..
Kasih dengarlah, aku ingin berceloteh sedikit tentang tanya yang tak berani terurai bersama rasa. Tentang tanya yang bersembunyi dalam kata, terselip diantara penggalan makna.
Mungkin bukan waktunya (atau belum waktunya) aku meragukan tanya ini, tapi...
..Somewhere, over the rainbow, way up high..
Aku merasa aku telah mencurimu dari dia. Yang biasa kau manja-manja, atau tempatmu berkeluh kesah, bahkan tempatmu menuangkan rasa yang selama ini tertahan dengan yang disana.. ah, entahlah, aku tak berani mencari fakta.
..There's a land that i heard of once in lullaby..
Mungkin bukan tak berani, melainkan belum. Aku hanya mencoba menempatkan diriku di posisinya, kehilangan seseorang yang selama ini menjadi tempat ceritanya, tempatnya menaruh rasa percaya, dan tempatnya....... lupakan, aku tak tahu apa-apa.
..Someday I'll wish upon a star, and wake up where the clouds are far behind me..
Aku memang bukan siapa-siapa yang berhak memberi batasan, dan aku juga tidak memiliki hak untuk menerormu dengan ribuan tanya, dan aku juga tidak ingin tahu (dan tidak mau tahu) tentang kalian yang.......
sudahlah, sudah ku camkan aku tidak tahu apa-apa!
dan memang aku tiada hak untuk menanyakan apa-apa yang lebih dulu datang, bahkan jauh sekali sebelum aku datang ke kehidupanmu.
mungkin ia memang tempatmu selama ini berbagi kasih, dan kau merupakan tempatnya untuk berbagi suka duka,
tapi aku paham rasa kehilangan itu; telak.
lalu siapa tempatnya bercerita? lalu siapa tempatku bercerita?
........
..Where troubles melt lemon drops away above the chimney tops, that's where you'll find me..
Mungkin sekarang tiba saatnya aku menyendiri.
Menanti tanya hingga muncul jawab
Tanpa bertanya.
Lantas kenapa kalau aku mau tahu, salah?
Aku merasa ada yang kamu sembunyikan dariku jauh dari batas jangkauanku sebagai manusia yang ingin tahu segala hal..
Ketika kau memanipulasi segala rasa dengan tawa dan perlakuan indah
Ku sadari, rasa nyamanmu sedang berkelana menuju raga yang lain
Raga yang memiliki hati jauh membuatmu merasa nyaman
Denganku juga kau merasa nyaman, aku yakin itu!
Namun sepertinya ada satu sisi dimana aku tidak memiliki apa yang ia punya
Dan kamu menikmati bahkan tenggelam disana..
Sesekali kamu muncul ke daratan
Memberi tanya serta jawab yang sedari dulu aku lontarkan
Tak lama kamu kembali menghindar
Bahkan berenang jauh ke laut lepas sana
Hingga aku sendiri pun kalah cepat untuk mengejarmu
Kau masih kamu yang dulu
Yang acuh namun cuek dan plegmatis
Kau yang berteman dengan banyak wanita
Yang membuatku cemburu
Tapi tetap kau yang selalu menjadi alasanku bertahan dalam situasi apapun
Aku faham, sayang
Kau masih di persimpangan yang sama dimana kau tak tahu harus kemana melangkah
Kau tahu, sayang
Aku masih teman bicara dan penyimpan rahasia terbaikmu
Bicaralah padaku
Katakanlah apa yang menjadi bebanmu
Dan kita akan coba selesaikan bersama
Tanpa harus berpisah
Lagi..
Sayang, aku selalu tahu dirimu
Bahkan ketika kamu menjadi diri yang tak kukenal
Tapi cobalah mengerti
Dewasalah, sayang..
Ini bukan hal yang seharusnya menjadi alasan kita menjauh
Kau pun selalu katakan, bahwa perasaan tak bisa dipaksa
Namun kau seharusnya yakin bahwa kita bisa melewati segala cobaan ini
Karena aku yakin rasa mu masih padaku
Walau berkurang
Tapi aku tahu kau masih ada disana
Untuk kita
Aku seperti berada di sebuah dimensi dimana aku harus bertahan menerpa kencangnya angin yang menghantam dan membawa lari angan, lalu hilang tanpa bisa ku gapai kembali.
Seperti harus bertahan namun perlahan segala kekuatan hilang tanpa bekas dan kembali kosong.
Bukan, bukan kosong.
Rasa ini sedang berusaha meyakini rasa-nya sendiri yang perlahan mulai terkikis
Namun aku hanya perlu waktu 'tuk kembalikan rasa yang kini mengabur dan beku
Rasa yang dulu selalu kau bawa pergi dan kau tunjukkan pada duniamu
Rasa yang sebisa mungkin aku dan kau pertahankan
Lagi-lagi kamu datang
Tanpa permisi
Hanya lewat
Tanpa pamit
Seperti melihat tukang gado-gado
Dipanggil, tapi tak menyahut
Tapi kamu lewat
Selalu ada
Datang tanpa permisi
Ya pergi untuk apa pamit?
Tapi tetap saja kaget
Kamu yang awalnya dingin
Tiba-tiba menghangat
Sejenak
Bagai senyuman penjual es krim rasa jeruk
Di siang hari
Lalu kembali dingin
Seperti matahari yang terselimuti awan hitam
Sekejap menghangatkan
Tak lama membiarkan dingin
Lagi
Tetap saja
Selalu deh kamu
Membuat penasaran
Mau apa?
Dan buatku gila bertahap
Sebentar tersenyum, sebentar merenung
Klise memang
Tapi inilah kenyataan
Akibat ketidak pedulian
Aku
Kamu
Kita
Mereka
Dia
Ia
Beliau
Anda
Semua aspek
Semua orang
Semua....
Semua.
Jangan sampai kisah Nuh dan pengikutnya terulang lagi
Haruskah menunggu bahtera besar yang akan membawa seluruh umat pergi?
Haruskah menunggu 'sang juru selamat' yang akan merangkul dan membopong pergi meninggalkan kota maksiat ini?
Mungkin inilah,
Kiamat sughra
Teguran Tuhan
Jakarta......
Kita berada dalam dua sisi yang berbeda saat ini
Tidak sejalan
Entah apa yang ada di fikiran kamu
Aku tak dapat membaca
Apalagi menebak
Bahkan aku sendiri juga tak tahu
Apa yang ada di fikiranku
Saat ini
Aku mencoba mendekat
Kamu menjauh
Aku mencoba memeluk
Kamu meregang peluk
Aku mencoba melucu dan tertawa
Kamu tersenyum tipis
Seperti senyum remaja masa kini
Tiga centi ke kiri, dua centi ke kanan
Irit
Kurasa ada magnet yang menempel
Diantara kita
Dua kutub yang tak lagi beda
Maka saling menjauh
Aku utara, kamu utara
Aku selatan, kamu selatan
Apa mungkin ini akibat
Dari diri ini
Yang terlalu banyak
Membaca tanpa memahami
Mendikte tanpa mendengar
Menyayangi tanpa tahu
Apa sebenarnya yang ada
Di fikiranmu
Lagi-lagi aku mencoba
Mendekat
Kamu menajuh
Mengirim pesan
Kamu mengelak
Tanpa balas
Mengacuhkan
Tanpa tanda
Kehidupan
Yasudah
Lupakan saja
Semoga yang seperti ini
Membuatmu nyaman
Dengan hidupmu