Amarah Klasik

...Lalu, saat ku mulai berubah, kau runtuhkan kepercayaan yang perlahan kita bangun bersama, kasih.


Dalam lelap malam aku bersimpuh pada Tuhan, menyerahkan lara pada alas sujud milikmu
Tidak, aku tidak menyalahkan Tuhan atau mempertanyakan sesuatu pada-Nya
Aku hanya mengadu, mengapa luka begitu perih kudera
Saat aku dan kau baru membangun kasih bersama

Aku tahu, mungkin percayamu telah ku nodai dengan masa lalu ku
Hingga kau kehilangan rasanya
Kehilangan cintanya
dan harapnya pada hati ini, kasih..
Maafkan aku

Tapi tunggulah sejenak
Aku sedang berusaha mengobati lara mu
Yang ku tahu mungkin saja tak lagi terobati
Namun apa salahnya kau jujur?
Setidaknya, ceritakan padaku atas apa yang kau masih pertanyakan selama ini
Yang masih ingin kau mintai penjelasannya

Tak perlu, kan, membalas dendam?

Aku menanti kejujuranmu, sekian lama
Tanpa berani kutanyakan apa-apa
Hanya ingin kau jujur, sudah cukup

Aku rindu ceritamu pada dunia yang sesempat mungkin kau ceritakan padaku
Bukan ia yang sekarang kau selalu nanti jawab pesannya
Atau bersembunyi dari ku yang menaruh percaya padamu
Aku rindu rayu manjamu padaku yang kau selalu lantunkan pada petikan nada-nada minor gitarmu
Untukku
Bukan ia

Jika terlalu sering bersama membuatmu jengah, dan jarak yang terpisah membuatmu luka, aku harus apa?

Ketika aku merindumu begitu dalam, kau memilih bercerita dengannya
Bahkan kasihku tak kau sambut..

Apa tak ada lagi benang-benang kasih dan rindu yang dapat kita rajut bersama, sayang?
Apa tak ada lagi susu hangat di malam hari dan kopi panas di pagi hari yang dapat menyatukan kita, kasih?
Apa tak bisa lagi,
Cinta ini kita miliki bersama?

Aku merasa gagal, aku merasa usahaku gagal..
Bahkan aku baru tahu kalau kau tak rasakan apa-apa saat hari bahagiamu bersamaku........

Kau tetap memilih dia
Kau tetap pada dia
Sekalipun denganku



Siapa yang kau rasa pantas untuk mengisi harimu, kasih?
Jika aku tak lagi jadi labuhanmu
Berlayarlah yang jauh, berlayarlah..
Agar aku bereskan sendiri rasa luka ini







Bisakah kau mengembalikan gelas yang telah pecah?
Bisakah kau mengembalikan kertas yang telah robek?
Bisakah kau mengembalikan hati yang telah rapuh?









Terimakasih atas luka ini, sayang..


Jatinangor, 18/09/13



Selamat Malam, Pagi.

Hai, kali ini rasanya aku sungguh merindumu, pagi.
Merindumu berceloteh bersamaku dalam dua sendok makan susu hangat dan satu sendok makan gula pasir
Dan seduhan air panas setengah gelasmu
Aku merindumu menonton televisi bersama, membicarakan hal-hal tak penting hingga masalah negara ini (yang sudah jelas tak penting bagi hidup kita, iya kan?)

Seringkali bertengkar hanya karena masalah berbeda pendapat. Sering sekali.

Lalu dengan kesibukan satu sama lain kala bersama
Aku dan ponselku, kau dan komputer jinjingmu
Bersama dua gelas kopi yang mulai mendingin

Ah, lupakanlah. Aku hanya merindu kasihmu masih bersamaku




Selamat malam, Pagi.
Aku tahu cerita ku diatas hanyalah fiktif belaka
Karena nyatanya
Kita tak akan pernah bersua.

Aku hanya merindu fajar dan senja, dimana aku dan kau saling bersua
Walau hanya sekejap..

Selamat malam, Pagi..
Sudah waktunya kisahku terlelap
Sudah waktunya kau melanglangbuana
Menggapai mimpimu




...kutunggu kau (selalu), kala senja dan fajar siap mengantarkanku padamu




dari perindumu,

Malam.

Cukup

Aku lelah menjadi yang teraniaya dalam setiap kata "mengapa".
Pun lelah menjadi tersangka dari setiap elegi bernama "kita".
Aku menyalahkan jalanmu; Kau menyalahkan langkahku
Seperti tak sadar bahwa aku dan kau dulunya adalah kita

Siapa yang lebih tahu, aku dan kau -- atau mereka?

Bukan kamu yang tidak lebih baik, bukan aku yang terlampau egois
Hanya kau dan aku saja yang tahu duduk perkaranya, kan?



Mengapa kita tak coba sudahi drama klasik ini?
Satukan jawaban yang padu atas "kita" yang mulai rapuh.
Agar mereka tak salahkanmu;
Agar mereka tak fitnah aku

Berhentilah, sebelum mereka semua menjauh..






Jakarta,
22 Juli 2013

(Jangan) Tanya (Lagi)

Huu.. Huu.. Huu..

Kasih dengarlah, aku ingin berceloteh sedikit tentang tanya yang tak berani terurai bersama rasa. Tentang tanya yang bersembunyi dalam kata, terselip diantara penggalan makna.

Mungkin bukan waktunya (atau belum waktunya) aku meragukan tanya ini, tapi...


..Somewhere, over the rainbow, way up high..


Aku merasa aku telah mencurimu dari dia. Yang biasa kau manja-manja, atau tempatmu berkeluh kesah, bahkan tempatmu menuangkan rasa yang selama ini tertahan dengan yang disana.. ah, entahlah, aku tak berani mencari fakta.


..There's a land that i heard of once in lullaby..


Mungkin bukan tak berani, melainkan belum. Aku hanya mencoba menempatkan diriku di posisinya, kehilangan seseorang yang selama ini menjadi tempat ceritanya, tempatnya menaruh rasa percaya, dan tempatnya....... lupakan, aku tak tahu apa-apa.


..Someday I'll wish upon a star, and wake up where the clouds are far behind me..


Aku memang bukan siapa-siapa yang berhak memberi batasan, dan aku juga tidak memiliki hak untuk menerormu dengan ribuan tanya, dan aku juga tidak ingin tahu (dan tidak mau tahu) tentang kalian yang.......

sudahlah, sudah ku camkan aku tidak tahu apa-apa!

dan memang aku tiada hak untuk menanyakan apa-apa yang lebih dulu datang, bahkan jauh sekali sebelum aku datang ke kehidupanmu.

mungkin ia memang tempatmu selama ini berbagi kasih, dan kau merupakan tempatnya untuk berbagi suka duka,
tapi aku paham rasa kehilangan itu; telak.
lalu siapa tempatnya bercerita? lalu siapa tempatku bercerita?

........


..Where troubles melt lemon drops away above the chimney tops, that's where you'll find me..


Mungkin sekarang tiba saatnya aku menyendiri.
Menanti tanya hingga muncul jawab
Tanpa bertanya.



Jatinangor, 29/6/13

Hama

Lantas kenapa kalau aku mau tahu, salah?



Heran dengan semua ini, mengapa seakan kamu yang lebih, dan aku bukan siapa-siapa? Mengapa seakan kau berlaku sebagai seorang yang 'mengerti' dan aku hanyalah pungguk.

Kamu siapa?! Mengapa begitu kuat dan menggebu-gebu ego mu saat berceloteh tentangku, dan seenaknya mengomentari kami.

Memang kamu siapa?? Hendak tahu alasan apa dibalik semua rasa, yang bahkan aku dan dia pun tidak tahu jawabnya. Mengapa kau hantarkan semua pertanyaan yang tak ada jawabnya, dan terus saja kau ceritakan tentang kehebatan lelaki-lelaki itu dalam menggapai hatimu.

Yasudah, sudah ada yang lain, kan? Apa motifmu selain merusak, mengganggu, dan ingin mengenyahkanku perlahan?

Astaga, awalnya aku begitu respek terhadapmu. Berkenalan dan memang sungguh ingin berteman. Entah mengapa semakin lama kau semakin menekanku dengan pertanyaan-pertanyaan retorik, lalu kau tunjukkan padaku bahwa "Hahaha, iya dia telah melakukan yang LEBIH untukku. Kamu dapat apa?"

Memang pada saat itu aku tidak bisa menyalahkan suasananya, tapi kumohon mengapa kau terus saja mengintrograsi diriku seolah-olah aku mengganggu kalian?

Aku hanya ingin berteman. Namun sepertinya kau ingin aku mengangkat senjata.





Oh, atau kau menginginkannya?
Enak saja.




Jatinangor,
10/4/2013

Manipulasi Rasa

Aku merasa ada yang kamu sembunyikan dariku jauh dari batas jangkauanku sebagai manusia yang ingin tahu segala hal..
Ketika kau memanipulasi segala rasa dengan tawa dan perlakuan indah
Ku sadari, rasa nyamanmu sedang berkelana menuju raga yang lain
Raga yang memiliki hati jauh membuatmu merasa nyaman
Denganku juga kau merasa nyaman, aku yakin itu!
Namun sepertinya ada satu sisi dimana aku tidak memiliki apa yang ia punya
Dan kamu menikmati bahkan tenggelam disana..

Sesekali kamu muncul ke daratan
Memberi tanya serta jawab yang sedari dulu aku lontarkan
Tak lama kamu kembali menghindar
Bahkan berenang jauh ke laut lepas sana
Hingga aku sendiri pun kalah cepat untuk mengejarmu

Kau masih kamu yang dulu
Yang acuh namun cuek dan plegmatis
Kau yang berteman dengan banyak wanita
Yang membuatku cemburu
Tapi tetap kau yang selalu menjadi alasanku bertahan dalam situasi apapun

Aku faham, sayang
Kau masih di persimpangan yang sama dimana kau tak tahu harus kemana melangkah
Kau tahu, sayang
Aku masih teman bicara dan penyimpan rahasia terbaikmu
Bicaralah padaku
Katakanlah apa yang menjadi bebanmu
Dan kita akan coba selesaikan bersama
Tanpa harus berpisah
Lagi..

Sayang, aku selalu tahu dirimu
Bahkan ketika kamu menjadi diri yang tak kukenal
Tapi cobalah mengerti
Dewasalah, sayang..
Ini bukan hal yang seharusnya menjadi alasan kita menjauh
Kau pun selalu katakan, bahwa perasaan tak bisa dipaksa
Namun kau seharusnya yakin bahwa kita bisa melewati segala cobaan ini
Karena aku yakin rasa mu masih padaku
Walau berkurang
Tapi aku tahu kau masih ada disana
Untuk kita



Kita hanya belum mencoba
Menyusun teka-teki kehidupan ini bersama
130210


p.s
Jika kamu sadar bahwa cinta itu adalah rasa sayang, ingin melindungi dan menyayangi, kamu bisa simpan rasa itu jika persahabatan kalian lebih berarti, karena akan terjebak dalam situasi yang nantinya hanya rasa bersalah, pemusuhan serta canggung dan berujung anomali tanpa akhir. 

Abu-Abu

Segala hal menjadi abu-abu ketika suatu hari aku mencoba menjadi seorang yang bukan diriku sendiri..
Dimana aku harus belajar mengerti dan menjadi kamu, dan kamu harus menjadi sosok lain yang tak mudah ku kenali,
atau tak dapat ku kenal sama sekali?

Aku seperti berada di sebuah dimensi dimana aku harus bertahan menerpa kencangnya angin yang menghantam dan membawa lari angan, lalu hilang tanpa bisa ku gapai kembali.
Seperti harus bertahan namun perlahan segala kekuatan hilang tanpa bekas dan kembali kosong.
Bukan, bukan kosong.
Rasa ini sedang berusaha meyakini rasa-nya sendiri yang perlahan mulai terkikis

Tidak, aku masih yakin padamu

Namun aku hanya perlu waktu 'tuk kembalikan rasa yang kini mengabur dan beku
Rasa yang dulu selalu kau bawa pergi dan kau tunjukkan pada duniamu
Rasa yang sebisa mungkin aku dan kau pertahankan

Dengarlah, aku tidak menuntutmu
Aku hanya rindu rasa bangga padaku yang dulu selalu kau bawa berkelana dalam setiap inci duniamu..
Aku rindu waktu-waktu dimana segala harap tak hanya menjadi bual dan berubah menjadi karbon dioksida.







Pemilik rasa, penunggu asa
130213

p.s
Jika kau masih ingin bersama menyatukan asa yang kian mengabur, alangkah baiknya temui aku di sudut kota ini, tepat dimana aku akan selalu menunggumu dengan seporsi kerang dara, menanti senyuman penuh makna.

Mimpikah? Atau Memang Kamu (Hanya) Lewat?

Lagi-lagi kamu datang
Tanpa permisi
Hanya lewat
Tanpa pamit
Seperti melihat tukang gado-gado
Dipanggil, tapi tak menyahut
Tapi kamu lewat
Selalu ada

Datang tanpa permisi
Ya pergi untuk apa pamit?

Tapi tetap saja kaget
Kamu yang awalnya dingin
Tiba-tiba menghangat
Sejenak
Bagai senyuman penjual es krim rasa jeruk
Di siang hari
Lalu kembali dingin
Seperti matahari yang terselimuti awan hitam
Sekejap menghangatkan
Tak lama membiarkan dingin
Lagi

Tetap saja
Selalu deh kamu
Membuat penasaran
Mau apa?
Dan buatku gila bertahap
Sebentar tersenyum, sebentar merenung

Ah, kamu selalu bisa merebut hati


190113
GabyKalalo



*****


Hari ini aku belajar mencatat mimpi
Seperti apa yang kawanku lakukan
Ya, mungkin saja ada makna
Namun tetap saja mimpi hanyalah bunga tidur, kan?

Aku bermimpi, kita menghabiskan waktu untuk berlibur (lagi)
Makan di warung nasi dengan porsi kuli
Lalu berdiam diri di kamar sembari menonton film
Dan aku menunggu
Menikmati indahmu dari sisi gelapku
Sambil mengendus bau maskulin-mu
Lalu kita jalan-jalan
Tidak, kali ini bukan di kota kembang
Entahlah,
Kita berjalan begitu jauh
Dan bahagia

Lalu aku terbangun
Membuka twitter
Dan tersenyum


Ya, (mungkin) selalu ada kamu di ujung sana



190113
GabyKalalo

Senandung Jakarta dan Kisah Nuh

Klise memang
Tapi inilah kenyataan
Akibat ketidak pedulian
Aku
Kamu
Kita
Mereka
Dia
Ia
Beliau
Anda
Semua aspek
Semua orang
Semua....
Semua.

Jangan sampai kisah Nuh dan pengikutnya terulang lagi
Haruskah menunggu bahtera besar yang akan membawa seluruh umat pergi?
Haruskah menunggu 'sang juru selamat' yang akan merangkul dan membopong pergi meninggalkan kota maksiat ini?

Mungkin inilah,
Kiamat sughra
Teguran Tuhan
Jakarta......





Jkt, IDN
Jan 17, 2013
GabyKalalo
#PrayForJKT

:)

“Here I go again, I promised myself I wouldn’t think of you today. It’s been many years with you and counting, you moved on I still feel exactly the same. It’s just that everywhere I go, all the buildings know your name like photographs and memories of love. Steel and granites reminder, The city calls your name and I can’t move on.

Am I all alone in the universe? There’s no love on this street. I’ve been giving mine away to a world that didn’t want it anyway. So this is my new freedom, it’s funny I don’t remember being changed. Well, nothing seems to make sense anymore, without you I’m always twenty minutes late.

Ever since you’ve been gone, the lights go out the same. The only difference is you call another name. To your love, to your lover now. To Your love.. The lover after me.

And time goes by so slowly, the nights are cold and lonely. I shouldn’t be holding on but I’m still holding on to you.

Here I go again I promised myself, I wouldn’t think of you today. But I’m standing at your doorway. I’m calling out your name ’cause I can’t move on.

Untukmu:

Untukmu:
Back to Top