I shouldn't expect or hope for anything else.

Pada Laju Kereta

Ada sebuah rasa yang menikam mataku. Serupa sekuntum rindu yang ragu bertuan.


Siapa yang datang dan siapa yang pergi?


Pada stasiun tempat berhenti, gerbong ketiga dari depan arah kereta tiba. Yang tiba turun, yang belum terus berlanjut.

Setiap cerita selalu punya tanda tanya, dan setiap tanda tanya kelak dapat dirangkai jadi satu makna.


Siapa yang datang dan siapa yang pergi?


Tenang saja, ini hanya keluhan semata. Semua juga tahu, bahwa stasiun sudah biasa jadi tempat bertemu dan berpisah setiap harinya. Tidak perlu disembunyikan, karena mungkin hari ini aku cukup manja dan lelah bertanya-tanya.


Jadi, siapa yang datang dan siapa yang pergi?


Ah, semoga kelak akan tiba jawabnya, atau hilang begitu malam perlahan sirna.

Jadi, bagaimana?

Bagaimana agar tidak terjatuh, jika roda selalu memutar laju?

Bersiap untuk Jatuh

Setiap kisah tidak selalu rumit, Tuan. Ada kalanya sangat mudah, ada kalanya tak lagi ringan.


Kau tahu? Untukku, perjalanan ini cukup pelik. Memasuki zona waktu dimana mencoba tak mudah percaya, sekalipun itu semua terkait definisi rasa yang terjalin dalam kita, tetapi mungkin kita pura pura tidak merasakan atau anggap saja tak perlu mengatur rencana untuk berlari dan melompat tinggi. Atau mungkin sebenarnya hanya saya yang pura-pura mati rasa?


Saya hampir menyerah, Tuan.
Mungkinkah segala angan mewujud nyata?
Akankah segala cerita tak lagi usang,
Tak perlu lagi tulis - hapus kata untuk nyatakan rasa
Tak ingin segala berlarut,
Atau nyatanya memang kau memilih hanyut?


Tapi tetap saya tahu,
Berani memiliki rasa berarti mempersiapkan diri untuk jatuh,
karena patah hati hanyalah soal waktu


Dan jatuh yang pertama sudah saya rasakan.




Keraguan yang tak kunjung habis

Jam sepuluh malam, dalam perjalanan menuju rumah. Pekerjaan yang harusnya saya selesaikan lebih dulu terhalau oleh pikiran-pikiran menguras tenaga.

Kali ini, tentang apa yang ingin dicapai dalam hidup.

Apa sesungguhnya motivasi manusia untuk hidup? Nampak beberapa manusia --- bahkan sebagian besar termasuk saya, tidak tahu apa yang ingin dicapai dalam hidup.


Lusa kemarin, saya melihat sepasang suami-istri muda, dengan wajah lelah duduk di dalam kereta menuju Bogor usai memikul televisi baru yang sepertinya dibeli di daerah Glodok. Raut wajah senang terpancar, namun penat lebih cenderung ditunjukkan oleh pasangan itu.
Sambil memegang televisi barunya, sang istri sambil memejamkan mata lunglai bertumpu pada bahu suaminya --- yang juga lemas dan lebih banyak menunduk. Entah apa gerangan yang ada dalam pikiran mereka.



Saya menduga-duga, apa sesungguhnya masalah yang mereka berdua hadapi? Apakah mereka bingung membayar cicilan televisi tiga puluh dua inci yang baru saja mereka beli? Atau mereka salah perhitungan harusnya mereka membeli mesin cuci atau kompor terlebih dahulu? Atau mereka sebenarnya hanya kelelahan menuju rumah yang tak di pusat kota (seperti banyak keluarga baru yang memilih rumah di daerah suburban Jakarta seperti Depok, Tangerang, Bekasi)?

Tak terasa saya menitikkan air mata membayangkan keluarga kecil tersebut. Membayangkan bagaimana masa depan saya saat berkeluarga nantinya. Saya membayangkan bagaimana nantinya berkutat dengan kalkulator bersama pasangan hanya untuk mempertimbangkan beli ayam atau telurnya, atau membatasi listrik rumah dengan tidak menyalakan hair dryer setiap harinya, karena watt-nya cukup besar, berdampak pada token yang cepat habis.


Tidak, tidak.. bukan saya tidak mau hidup susah. Bukan pada bagaimana berjuang untuk hidup susahnya yang saya bayangkan (terima kasih, papa dan mama yang memberi saya ruang untuk hidup hemat sejak dulu), tapi yang saya bayangkan adalah betapa masalah akan terus hadir, sendiri ataupun berdua. Saya yakini, menurut kitab dan tetua katakan dimana menikah itu membuka pintu rezeki (dan rezeki tidak hanya berdasarkan uang).


Melihat pasangan tersebut, saya sadar bahwa pada akhirnya hidup hanyalah tinggal sendiri atau berdua. Tidak lagi cerita 'dapur' bisa diceritakan kepada sahabat, sekalipun selalu bersama sejak kecil. Mind your own f*ckin' relationship, they said. Tidak lagi ada drama-drama pasangan ngambek tidak mau makan dan pasangannya menjadi cenayang menerka pasangannya ingin apa. Semua harus dibicarakan. Memiliki teman untuk beribadah hingga bergosip. Tidak bisa lagi, pasangan ceroboh masakannya gosong dan uring-uringan seharian.


Saya membayangkan, kedepannya akan terus ada gejolak hidup, dan begitu terus hingga Tuhan panggil saya untuk selesai bertugas di dunia.


Nah, tugas apakah yang Tuhan inginkan saya untuk jalankan sebaik-baiknya? Apakah saya akan jadi pengusaha yang bisa saya remote kerjaannya dari rumah sehingga anak saya kelak tidak kehilangan masa tumbuh kembangnya? Atau saya akan jadi pekerja kantoran, kembali duduk di bangku agency melayani klien yang maha benar, atau malah duduk di bangku Chitose dan mendalami pelajaran new media? Atau sebenarnya, Tuhan hanya minta saya kembali ke masyarakat dan hidup bersosial, membuat kampanye dan juga menjadi tenaga pengajar bagi adik-adik yang membutuhkan? Saya belum memutuskan.


Jika harus berbagi hidup, dengan siapakah pasangan saya nantinya? Apakah saya harus sakit kepala dengan tingkah pasangan yang tidak mau cuci kaki sebelum ke kasur, atau sebenarnya saya pun juga menyebalkan di mata pasangan saya kelak?


Lagi-lagi, ragu apa yang baru saja saya uraikan? Untuk apa menakuti sesuatu yang belum tentu akan terjadi?

Rima Antar Jeda

Aku mengerti setiap langkah selalu ada jeda
Jeda yang berulang, mencipta beda
Beda yang selalu kita debat hadirnya
Tak luput berulang dua-tiga


Perlahan sedang ku coba
Mengusir jeda pada hembusan
Namun ternyata sesak
Berakhir sedu-sedan


Tak pernah berjanji
Tapi raga ini terseok-seok, tuan
Mencari rumah untuk sembunyi
Atau sekadar menggantung doa-doa harapan


Bukankah kita semua enggan diberi harap?


Lantas apa yang menghidupkan jiwa
Selain kapal menuntut muara
Atau memilih menikmati suasana
Pada kapal kayu lapuk di tengah samudera?

Memang rindu tak harus bertuan,
Tapi rindu butuh tempat untuk bersandar
Atau lebih baik ku benamkan saja semua ragu di dasar lautan
Hingga kau tak pernah sadar

Bahwa aku juga bisa merindu
Tanpa perlu kau tahu rimanya

Dongeng Sebelum Tidur

Aku ingin terlelap,
Dalam rengkuhmu yang tak pernah gelap

Pada satu hari,
Atau hanya satu kali

Pada satu mimpi yang tak pernah terjadi

_____

Lalu bagaimana, jika ini hanya ilusi?
Semata mendamba hanya untuk malam ini saja?

Atau sebaiknya, aku tak usah beranjak tidur
Agar ceritanya tak lagi luntur

______

Siapa Kau Sebenarnya?

Mungkinkah kau sebenar-benarnya pelintas waktu; terbang dari masa depan, melewati ribuan andromeda untuk bisa melambai dan mengulurkan tangan dalam kerumunan petang itu, menentang gravitasi dan segala gerak materi.

Mungkin kau memang bukan mahluk bimasakti, entah kau berasal dari Kripton atau Namec --atau dari planet Megathobia. Jujur saja pada ku, kau sebenarnya datang dengan mesin waktu, tersesat di bumi dan ditemukan di bukit belakang sekolah oleh Nobita, kan?

Tapi, jika kau memang benar adanya datang dari masa depan, sepertinya tidak mungkin. Selain menentang termodinamika kedua, memutarbalikkan waktu berarti juga memutarbalikkan momentum pergerakan seluruh partikel di alam semesta. Sulit sekali rasanya perjalanan kau merubah pergerakan alam semesta untuk menemui saya.

Tutup cerita tentang perjalanan ke masa lalu. Mari kita coba gunakan kiblat Hawking yang tak percaya mesin waktu bisa dibuat. Kau muncul dari alam semesta lain. Hal termudah dari memahami itu semua ialah lewat kebetulan. Kita buat probabilitas atas apa yang terjadi di sore itu, mengalikan segala kebetulan atas tindakan yang akhirnya kau bulatkan. Atau malah sebenarnya, kita hanya berjalan dalam Deja Vu?

Astaga! Bagaimana kalau kita sudahi percakapan atas dunia kuantum yang tak kunjung selesai dibahas ini? Newton sudah katakan berulang kali bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini, karena semua hanya kebetulan. Anggap saja, pertemuan kita ialah sebuah kebetulan. Skenario yang tak akan pernah terencana.

Lelah menerka, siapa kau sebenarnya. Menjelajah ruang, terjerembab dan bertemu dengan saya sepertinya bukanlah hal indah yang kau harapkan. Atau memang kau tak ingin lagi melesat cepat; memilih melambatkan waktu agar bisa menyamai dunia pararel yang saya miliki. Tapi, untuk apa?

Jika seseorang bisa melakukan perjalanan dengan kecepatan cahaya, mereka akan menjadi abadi.

Atau sebaiknya saya saja yang mengatur waktu agar bisa menyamai kecepatanmu? 

Hmm, kalau begitu, mari ajarkan saya untuk melesat dengan kecepatan cahayamu! Menjelajah waktu di masa depan, tanpa perlu khawatir dunia pararel siapa yang sedang disinggahi. Satu frekuensi yang padu, kata mereka.

Entahlah, kebetulan apa lagi yang akan tercipta pada tiap-tiap detik yang akan kita lalui?





Jika menjelajah masa lalu bertentangan dengan hukum fisika, bagaimana dengan perjalanan ke masa depan? Masihkah berkutat dengan segala kebetulan?




Tunjukilah kami jalan yang lurus,(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai
dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.(QS 1:6-7)



28/5/18
-G-

Isi Kepala Belakangan Ini

Sudah tiga jam berlalu, mengocok-ngocok isi kepala agar segera mengeluarkan muntahannya yang sedari tadi hanya membuat mual tapi tak kunjung berhasil. Entah apa yang saya inginkan beberapa waktu belakangan ini, entah apa yang saya pikirkan juga saya tak mengerti. Pertanyaan tentang selesai kemarin pun tak juga terjawab. Lagu Duta dan kawan-kawan yang sudah tiga kali putaran masih bisa membuat saya menatap layar kosong tanpa tahu mau memulai dengan huruf apa.

Akhirnya, saya putuskan semuanya kembali mengalir; mencoba agar runtutan emosi yang memberatkan kepala ini tercurah sudah.

Saya sedang merasa gagal. Gagal mewujudkan mimpi saya, gagal memenuhi harapan-harapan yang selalu saya rapalkan di sela dini hari. Saya merasa gagal menjadi diri saya sendiri, karena saya tidak tahu apa yang saya inginkan sesungguhnya. Tidak merasa berguna, tidak merasa bermanfaat untuk orang lain. Tidak punya prestasi untuk dibanggakan dan tak punya lagi harapan yang saya ingin capai.

Apa yang sebenarnya saya inginkan?

Saya hanya menjadi saya yang selalu ingin mengabdi dan berbagi, tapi sepertinya apa yang saya bagi selama ini tidak ada manfaatnya untuk diri saya sendiri, apalagi lingkungan saya. Saya tidak butuh prestasi atau apresiasi sih, tapi saya masih merasa kurang untuk orang lain. Saya punya mimpi-mimpi konyol yang masih ingin saya capai, saya punya beberapa harapan yang ingin saya penuhi sebelum 25 tahun. Selama ini saya hanya berpikir, bagaimana cara mewujudkannya, tapi aksi saya masih minim bahkan cenderung nol. Jangan sarankan saya untuk 'berbagi mimpi' kepada orang lain, karena saya harus achieve sendiri. Saya gak mau lagi berbagi mimpi untuk segala yang belum pasti, takut. Pamali. Nuhun,

TAPI SAYA JUGA TIDAK TAHU MAU APA, SAUDARA-SAUDARA!

Sebal ah, dengan diri sendiri. Rasanya kok nggak bisa punya pencapaian yang keren, setidaknya saya sendiri yang anggap itu keren hahaha. Saya mau keren untuk diri saya sendiri, supaya suami saya nantinya nggak malu punya pasangan yang kalau ditanya orang "kerjaannya apa?" jawabnya cuma ketawa. Supaya nantinya saya bisa cerita sama anak saya kalau saya pernah keren dengan apa yang saya lakukan. Bisa jadi contoh dan motivasi supaya anak saya kalau gak mau ngerjain peer gak bilang "lah ibu sih dulu juga males!" hahahaa. Ini ketawa saya yang sebenarnya saya nggak ketawa :')

Bagaimana ya, biar saya bermanfaat?


Untukmu:

Untukmu:
Back to Top