Sajak yang Tak Indah




Ini mungkin bukanlah sajak terbaik yang ku rajut, tapi inilah apa adanya: Sebuah sajak yang tak indah

Gema kembang api melejit ke angkasa
Bersama gemercik hujan yang turun
di awal tahun yang baru

Aku tak ingin merangkai yang indah-indah
Karena semua mungkin saja hanya kata
Bukan tindakan yang sugguh nyata manusia mampu lakukan

Sudahlah, tak perlu bermanis manja!
Semua kemesraan tak lagi ada guna
Bukankah sebaiknya tindakan yang kelak menjadi nyata?

Waktu berlalu begitu cepat
Hampir setahun waktu berjumpa
Menapaki alur yang begitu saja

Kalimat aksara penuh kata merindu sebuah raga
Tak lagi ada
Sembuyi ia ragu memunculkan nama

Betapa anehnya sajak ini
Tak punya rima bagai kepala yang tak ada isinya
Bagai elit politik pendukung satu dan dua

Bagai mereka yang kosong tapi nyaring
Susah-susah kuliah di luar negeri
Hanya buat telinga khalayak berdengung

Yang pada akhirnya
Aku menyerah
Pada bahumu yang sesekali ku gigit manja
Tempatku nantinya berkeluh kesah
Dibawah pelita bulan purnama bukan Basuki Tjahaja

Atau jika kau ingin sajak ini lebih indah
Akan ku percantik degan cerita anak-anak bulu
Yang setiap hari harus berebut mencari peluk
Lewat bahumu yang tak pernah sendu

Dan pada setiap peluh,
Lagi-lagi aku terjatuh
Merangkai sajak yang tak pernah indah
Untuk kita; pada setiap langkah

-

01/01/19
-G-





Kurang Tidur

Rasanya aneh ketika kita jatuh cinta, kita seolah tunduk dengan semua pinta. Diperbudak oleh rasa rindu, kasih, hingga ragu dan takut. Segala rasa bercampur padu, terkadang membuat haru, tapi lebih sering membuat sendu.

Bertahan dengan hampa, buat apa?

Setiap pagi kita berkabar dengannya, memberi tahu jadwal masing-masing, bersiap ke kantor, berkabar, sesekali berjumpa di sore hari, dan mengakhiri hari pada persimpangan dimana kau harus berbelok dan ia melangkah maju.

Dan itu berulang, setiap harinya.

Hingga akhirnya lelah, bukan kepada kisahnya, tapi kepada rutinitas yang selalu menimbulkan tanya,

"Seperti apa ujungnya? Bersatu atau menjauh?"

Kita pun bisa saja lelah untuk berpura-pura. Lelah untuk menjalani yang lagi-lagi tak pernah diketahui ujungnya. Kita seolah membuat jebakan sendiri, mempersulit keadaan hingga membuat diri tidak mengerti atas apa yang dilakukan. Jiwa ini semakin bias pada konsep diri berpasangan, entah untuk apa? Apakah yang kita lakukan? Saling cinta, atau hanya saling mengikat dan membuat luka satu sama lain?

Atau mungkin, hanya saya yang tidak bijak dengan diri sendiri? Membiarkan diri ini lagi dan lagi terbius akan cerita dan memaksa semua mengalir, padahal begitu banyak kerikil yang menghambat arusnya? Entahlah.

Asumsi bergejolak dalam benak, pertanda diri butuh istirahat sejenak,

Entah tidur sekejap, atau melepas segala penat
dari rima yang selalu berulang
dari nama yang tak pernah lekang

Satu kalimat yang selalu teringat,
Kau tak bisa memaksa yang kau cinta tumbuh bersama saat cerita hanya diam di tempat tanpa kata.



24/10/18
-G-

Dua Puluh Empat dan Segala Prasangka



Yap, betul sekali saudara-saudara. Tahun ini saya berusia dua puluh empat tahun. Sebuah usia dimana sebentar lagi sudah bukan dewasa-muda, melainkan setengah tua hahaha.



Usia tidak pernah menjadi momok yang menyeramkan untuk saya, apalagi terkait hal yang berbau pernikahan dan kesuksesan. Dimana, orang-orang seusia saya, bahkan mungkin anda yang sedang membaca cerita ini pun memiliki ketakutan pada quarter life crisis.

Banyak hal yang terjadi di kehidupan saya belakangan ini. Teman-teman sekeliling yang mulai sibuk dengan kehidupan masing-masing (karir, keluarga, dsb) hingga lingkar terdekat saya yang hanya bersisa keluarga. 

Terlintas saya berfikir tentang keluarga. Iya, berkeluarga. Sesiap apa saya untuk membagi separuh hidup saya dengan orang lain?

Berkeliaran di beranda media sosial terkait segala rencana berkeluarga, memesan katering, dekorasi yang unik dan menarik. Begitu pula, kehidupan setelah menikah. Merencanakan sesuatu, memiliki anak, yang notabene di pikiran saya hanya ada tiga hal: Uang, uang dan uang.

Rezeki memang tidak akan kemana. Iya, saya mempercayai Tuhan dan pikiran saya. Tuhan akan mencukupkan selama saya mampu berusaha dan berkembang. Tapi jika dibandingkan dengan realitas saat ini, berapa sih tabungan yang saya punya untuk hidup dengan pasangan saya kelak? 

Saya ingin hidup yang lebih logis. Menikah bukan perihal ndusel bersama, tapi merancang hidup dan meghabiskan hidup dengan orang yang nyaman.

Kelak, saya akan meminta pasangan saya untuk membuatkan proposal dan segala yang saya selama ini mungkin tidak ketahui, seperti proyeksi keuangan hingga hutang kepada kolega. Hal ini untuk mencegah agar kedepannya kami tidak dihantui masalah dan/atau dapat kami selesaikan bersama. Proyeksi keuangan juga perlu, seperti uang masuk dan keluar selama ini untuk apa saja. Saya harus pastikan semua terjabarkan dengan baik. 

Terkait uang suami dan uang istri, saya tidak meminta pasangan saya nantinya untuk memberikan seluruh uangnya pada saya, tapi terkait cashflow dan keperluan kami berdua harus sama-sama terbuka. Menyisihkan satu tabungan untuk belanja bulanan sepertinya akan lebih baik dan autodebt dari tabungan kami masing-masing. Saya sadar, bahan pokok mahal. Yakali cuma mau dimodalin laki aja. Itulah sebabnya, saya mau kerja. Saya nggak mau cuma mengandalkan pasangan saya kelak.

Kemudian, saya ingin sekali pasangan saya dapat mengizinkan saya untuk bekerja, baik di kantoran maupun dirumah.

Dahulu, saya memiliki keinginan untuk membuka usaha sendiri atau bekerja paruh waktu saja yang dijalankan dari rumah, semisal nantinya saya memiliki anak. Tapi saya pun ingin bersosialisasi dengan dunia luar, bertemu dengan orang-orang baru. Saya mengharap pasangan saya kelak mengizinkan perempuan yang tidak bisa diam ini untuk bebas memilih pekerjaan apapun yang layak baginya, selama masih manusiawi. Bekerja di rumah maupun kantoran, semoga kelak ia dapat mengerti bahwa perempuan harus beraktivitas, tidak hanya memikirkan dapur-sumur-kasur.

Plus, menerima apa adanya bahwa saya tidak bisa dandan dan mau menerima saya apa adanya :((((  hahahhaa

Saya pun ingin pasangan yang terbuka, yang kelak dengan bangganya mengenalkan diri saya pada rekan-rekan maupun keluarganya dengan baik dan menjaga segala rahasia atau aib kami berdua untuk cukup didengar oleh telinga kami, tidak untuk orang lain sekalipun keluarga. Maka dari itu juga, saya mau bekerja dan beraktivitas di luar, supaya yaaa kalau dipromosikan kepada teman atau keluarga, ada lah nilai plus nya. Udah nggak cakep, ngga ngapa-ngapain dirumah, sedih amat. 

Terakhir, saya membutuhkan pasangan yang ikhlas sampai mati saya bawelin :( saya sadar diri kadang saya sangat cerewet dan bahkan cerita hal-hal yang kurang penting, mama saya saja sudah lelah sepertinya menanggapi cerita saya. Kalau saya bawel terus pasangan saya nggak mau mendengar cerita receh saya, ibarat dalam penjara seumur hidup :(((

Lho, kenapa keimanan nggak dimasukkin disini?

Menurut saya, keimanan itu kewajiban pasangan satu dan lainnya untuk saling mendukung, menjaga dan membawa ke jalan yang lebih baik. Tidak perlu berharap yang shalatnya kenceng lah sampai sunnah dan qunut, ikut majelis, ataupun hafal kitab-kitab. Saya butuh pasangan yang mau belajar, siap belajar bersama, dan juga mengajarkan. Saya pun yakin, jika keimanannya kuat pun dia tidak perlu meminta kesediaan saya, melainkan langsung weh lah ke mama urangBrave enough?


Duh, kenapa jadi bahas pasang-pasangan kawin-kawnan sih?

Ya ini karena saya lagi nggak bisa tidur aja. Pikiran kemana-mana, dan sepertinya saya perlu menulis ini sebagai pengingat bagi siapapun kelak yang bersedia (anjay sedih bgt w) , setidaknya kamu tidak berjuang sendirian. Saya sedang memantaskan diri.

Namun jika kelak saya dipertemukan lebih cepat, semoga Tuhan memberi jalan. Seperti doa yang selalu saya pinta:
Jika ia, pantaskanlah. Jika bukan, lepaskan dan ikhlaskan,

Bukankah mencapai ikhlas ialah tingkat keimanan yang paling tinggi?



Pada perjalanan mesin waktu
membawa kita pada dialektika
Apakah rima menjadi satu
atau bukan kamu, cerita dibalik kita


😊

I shouldn't expect or hope for anything else.

Pada Laju Kereta

Ada sebuah rasa yang menikam mataku. Serupa sekuntum rindu yang ragu bertuan.


Siapa yang datang dan siapa yang pergi?


Pada stasiun tempat berhenti, gerbong ketiga dari depan arah kereta tiba. Yang tiba turun, yang belum terus berlanjut.

Setiap cerita selalu punya tanda tanya, dan setiap tanda tanya kelak dapat dirangkai jadi satu makna.


Siapa yang datang dan siapa yang pergi?


Tenang saja, ini hanya keluhan semata. Semua juga tahu, bahwa stasiun sudah biasa jadi tempat bertemu dan berpisah setiap harinya. Tidak perlu disembunyikan, karena mungkin hari ini aku cukup manja dan lelah bertanya-tanya.


Jadi, siapa yang datang dan siapa yang pergi?


Ah, semoga kelak akan tiba jawabnya, atau hilang begitu malam perlahan sirna.

Jadi, bagaimana?

Bagaimana agar tidak terjatuh, jika roda selalu memutar laju?

Bersiap untuk Jatuh

Setiap kisah tidak selalu rumit, Tuan. Ada kalanya sangat mudah, ada kalanya tak lagi ringan.


Kau tahu? Untukku, perjalanan ini cukup pelik. Memasuki zona waktu dimana mencoba tak mudah percaya, sekalipun itu semua terkait definisi rasa yang terjalin dalam kita, tetapi mungkin kita pura pura tidak merasakan atau anggap saja tak perlu mengatur rencana untuk berlari dan melompat tinggi. Atau mungkin sebenarnya hanya saya yang pura-pura mati rasa?


Saya hampir menyerah, Tuan.
Mungkinkah segala angan mewujud nyata?
Akankah segala cerita tak lagi usang,
Tak perlu lagi tulis - hapus kata untuk nyatakan rasa
Tak ingin segala berlarut,
Atau nyatanya memang kau memilih hanyut?


Tapi tetap saya tahu,
Berani memiliki rasa berarti mempersiapkan diri untuk jatuh,
karena patah hati hanyalah soal waktu


Dan jatuh yang pertama sudah saya rasakan.




Keraguan yang tak kunjung habis

Jam sepuluh malam, dalam perjalanan menuju rumah. Pekerjaan yang harusnya saya selesaikan lebih dulu terhalau oleh pikiran-pikiran menguras tenaga.

Kali ini, tentang apa yang ingin dicapai dalam hidup.

Apa sesungguhnya motivasi manusia untuk hidup? Nampak beberapa manusia --- bahkan sebagian besar termasuk saya, tidak tahu apa yang ingin dicapai dalam hidup.


Lusa kemarin, saya melihat sepasang suami-istri muda, dengan wajah lelah duduk di dalam kereta menuju Bogor usai memikul televisi baru yang sepertinya dibeli di daerah Glodok. Raut wajah senang terpancar, namun penat lebih cenderung ditunjukkan oleh pasangan itu.
Sambil memegang televisi barunya, sang istri sambil memejamkan mata lunglai bertumpu pada bahu suaminya --- yang juga lemas dan lebih banyak menunduk. Entah apa gerangan yang ada dalam pikiran mereka.



Saya menduga-duga, apa sesungguhnya masalah yang mereka berdua hadapi? Apakah mereka bingung membayar cicilan televisi tiga puluh dua inci yang baru saja mereka beli? Atau mereka salah perhitungan harusnya mereka membeli mesin cuci atau kompor terlebih dahulu? Atau mereka sebenarnya hanya kelelahan menuju rumah yang tak di pusat kota (seperti banyak keluarga baru yang memilih rumah di daerah suburban Jakarta seperti Depok, Tangerang, Bekasi)?

Tak terasa saya menitikkan air mata membayangkan keluarga kecil tersebut. Membayangkan bagaimana masa depan saya saat berkeluarga nantinya. Saya membayangkan bagaimana nantinya berkutat dengan kalkulator bersama pasangan hanya untuk mempertimbangkan beli ayam atau telurnya, atau membatasi listrik rumah dengan tidak menyalakan hair dryer setiap harinya, karena watt-nya cukup besar, berdampak pada token yang cepat habis.


Tidak, tidak.. bukan saya tidak mau hidup susah. Bukan pada bagaimana berjuang untuk hidup susahnya yang saya bayangkan (terima kasih, papa dan mama yang memberi saya ruang untuk hidup hemat sejak dulu), tapi yang saya bayangkan adalah betapa masalah akan terus hadir, sendiri ataupun berdua. Saya yakini, menurut kitab dan tetua katakan dimana menikah itu membuka pintu rezeki (dan rezeki tidak hanya berdasarkan uang).


Melihat pasangan tersebut, saya sadar bahwa pada akhirnya hidup hanyalah tinggal sendiri atau berdua. Tidak lagi cerita 'dapur' bisa diceritakan kepada sahabat, sekalipun selalu bersama sejak kecil. Mind your own f*ckin' relationship, they said. Tidak lagi ada drama-drama pasangan ngambek tidak mau makan dan pasangannya menjadi cenayang menerka pasangannya ingin apa. Semua harus dibicarakan. Memiliki teman untuk beribadah hingga bergosip. Tidak bisa lagi, pasangan ceroboh masakannya gosong dan uring-uringan seharian.


Saya membayangkan, kedepannya akan terus ada gejolak hidup, dan begitu terus hingga Tuhan panggil saya untuk selesai bertugas di dunia.


Nah, tugas apakah yang Tuhan inginkan saya untuk jalankan sebaik-baiknya? Apakah saya akan jadi pengusaha yang bisa saya remote kerjaannya dari rumah sehingga anak saya kelak tidak kehilangan masa tumbuh kembangnya? Atau saya akan jadi pekerja kantoran, kembali duduk di bangku agency melayani klien yang maha benar, atau malah duduk di bangku Chitose dan mendalami pelajaran new media? Atau sebenarnya, Tuhan hanya minta saya kembali ke masyarakat dan hidup bersosial, membuat kampanye dan juga menjadi tenaga pengajar bagi adik-adik yang membutuhkan? Saya belum memutuskan.


Jika harus berbagi hidup, dengan siapakah pasangan saya nantinya? Apakah saya harus sakit kepala dengan tingkah pasangan yang tidak mau cuci kaki sebelum ke kasur, atau sebenarnya saya pun juga menyebalkan di mata pasangan saya kelak?


Lagi-lagi, ragu apa yang baru saja saya uraikan? Untuk apa menakuti sesuatu yang belum tentu akan terjadi?

Rima Antar Jeda

Aku mengerti setiap langkah selalu ada jeda
Jeda yang berulang, mencipta beda
Beda yang selalu kita debat hadirnya
Tak luput berulang dua-tiga


Perlahan sedang ku coba
Mengusir jeda pada hembusan
Namun ternyata sesak
Berakhir sedu-sedan


Tak pernah berjanji
Tapi raga ini terseok-seok, tuan
Mencari rumah untuk sembunyi
Atau sekadar menggantung doa-doa harapan


Bukankah kita semua enggan diberi harap?


Lantas apa yang menghidupkan jiwa
Selain kapal menuntut muara
Atau memilih menikmati suasana
Pada kapal kayu lapuk di tengah samudera?

Memang rindu tak harus bertuan,
Tapi rindu butuh tempat untuk bersandar
Atau lebih baik ku benamkan saja semua ragu di dasar lautan
Hingga kau tak pernah sadar

Bahwa aku juga bisa merindu
Tanpa perlu kau tahu rimanya

Untukmu:

Untukmu:
Back to Top